Senin, 05 November 2018

Pengajar Muda XVII : Setidaknya Pernah Berjuang [Bag. 1]


Tentang keinginan yang diam-diam selalu saya ucapkan dalam doa. Menjadi bagian dari proses belajar bersama masyarakat di ujung Indonesia melalui program Indonesia Mengajar. Ya, sejak tahun pertama kuliah, saya sudah menyematkan keinginan tersebut sebagai hal pertama yang akan saya lakukan selepas kuliah. Dalam perjalanannya, saya pun beberapa kali berkesempatan belajar dari kegiatan-kegiatan bersama masyarakat selama saya menjadi mahasiswa. Bahwa yang katanya kita berikan, percayalah, itu hanya sebagian kecil saja, dibandingkan banyak pelajaran-pelajaran kehidupan yang kita dapatkan dari mereka.

Seleksi Berkas

Tepat satu bulan setelah pendadaran, dibukalah pendaftaran Pengajar Muda angkatan XVII. Niat sedari tahun awal berstatus mahasiswa, akan mulai saya perjuangkan. Bismillah.
Tidak sebentar saya menyelesaikan pendaftaran. Ada banyak sekali isian-isian yang harus dilengkapi, mulai dari identitas diri, aktiftas-aktifitas yang pernah kita ikuti, organisasi, dan yang paling menyenangkan adalah ketika menuliskan essay di setiap pertanyaan yang diminta. Sekitar satu minggu, saya menghabiskan waktu untuk menuliskan essay, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membuat saya memutar ulang semangat-semangat ketika dulu berkegiatan, berdiskusi dengan teman – teman yang memiliki niat baik dan mimpi yang sama, kemudian bagaimana berembug memecahkan masalah dan banyak lainnya.
Sepenuhnya saya menyadari, jika saya bukanlah kalangan aktifis sosial yang banyak kontribusi-nya di kampus. Mungkin saya lebih banyak tenggelam dalam tugas-tugas kampus atau organisasi mahasiswa. Ada banyak nama-nama kawan yang ketika itu, saya rasa lebih pantas berjuang untuk ini. Tapi ya sudahlah, tidak ada yang salah kan untuk niatan baik ini. Yang saya yakini ketika mendaftar Pengajar Muda, bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan, akan menjadi pelajaran berharga ketika kita membubuhi niat terbaik didalamnya, dan memaknai sekecil apapun kontribusi kita.
Ya. Dari menjawab banyaknya pertanyaan dalam form Pengajar Muda yang berupa essay inilah, saya belajar untuk menghargai setiap kebaikan kecil yang pernah saya lakukan, dan niat-niat baik yang selalu saya lafalkan dalam doa. Terpenting, rasa terimakasih yang besar untuk orang-orang disekitar saya yang membersamai dalam kebaikan-kebaikan kecil kita.
Setelah menuntaskan segala persyaratan di dalam form Pengajar Muda, pada tanggal 25 Juni 2017, tepat hari dimana saya juga ketika itu sedang di Surabaya bersama teman-teman untuk berangkat ke Rote, saya mendaftar.
“Setiap orang tentu memiliki pilihan yang menurutnya paling berharga, dan membuat dia bahagia. Begitu pun, ketika saat ini saya memutuskan untuk menjadi satu dari sekian banyak kawan yang memilih menjadi pengajar muda. Karena, ada kebahagiaan yang saya dapatkan dengan belajar bersama diantara masyarakat, saling berbagi kebermanfaatan, dan saling bertukar ilmu. Karna bagi saya, seberapun tingginya saya mengenyam pendidikan, dan bagaimanapun pendidikan orang yang saya temui, bukan sama sekali menunjukkan strata diantara kita. Kita hanya sedang bertukar ilmu. Saya banyak belajar untuk mempraktekkan ilmu dengan orang-orang yang saya temui selama berkegiatan sosial di masyarakat, begitupun sebaliknya. Ketika terlibat dalam kegiatan sosial, saya belajar untuk menghargai, memahami dan menumbuhkan kepekaan.

Ketika itu ada 10.020 pendaftar Pengajar Muda angkatan XVII, pokoknya pasrah aja udah, yang penting sudah mengusahakan yang terbaik. Sekitar sebulan saya menunggu hasil seleksi berkas, pada tanggal 23 Juli 2018, ada email masuk yang mengabarkan kalau berkas saya lolos untuk mengikuti seleksi tahap II yaitu Direct Assesment. Seneng-nya bentar doang, karena justru berjuangnya baru akan dimulai.

Direct Assesment

Setelah mendapatkan izin orangtua, pada tanggal 9 Agustus 2018 saya berangkat ke Jakarta sendirian. Sebelumnya, teman se-kampus yang saya tau juga lolos sudah terlebih dahulu mengikuti DA sesuai jadwalnya, beberapa hari yang lalu. Sesampai di stasiun jatinegara, dini hari, saya langsung menuju kos adek di daerah Cikini, untuk bersiap-siap dan menaruh barang-barang. Dengan kondisi badan yang kurang fit karena se-enggak enak itu tidur di kereta, jadilah saya bersegera untuk siap-siap.
Pagi hari sebelum pukul 8, saya sampai di lokasi DA Indonesia Mengajar, IPMI Bussiness School. Disitu, sudah ada beberapa peserta DA dan kakak-kakak IM yang sedang mempersiapkan lokasi. Selayaknya peserta lain, Saya pun menghabiskan waktu menunggu dengan kenalan dan ngobrol bersama mereka. Tidak beberapa lama, panitia memanggil kami untuk masuk ke ruangan karena DA akan dimulai.
Direct Assesment diawali dengan sambutan General Manager IM yang menjelaskan tentang arah gerak IM sebagai prolog, sekaligus untuk memantapkan niat pagi itu. Lagi dan lagi, selalu ada celah buat kepesimisan saya hadir. Merasa tidak pantas ada disitu, dibanding kawan-kawan lain yang hari ini mengikuti DA, mereka jauh lebih mumpuni. Bismillah, mencoba membangun lagi niat terbaik, mungkin Allah pengen ngelihat usaha saya, toh yang bisa menilai pantas atau enggak kan bukan saya, tapi gusti Allah. Baik kita mulai.

Tes Psikologi

Setelah selesai perkenalan tentang Indonesia Mengajar, kami diberikan 3 lembar kertas HVS untuk tes psikologi. Tes-nya ngga susah sih, pasti teman-teman pernah kok di suruh tes yang semacam ini. Tes Grafis, jadi kita diminta untuk menggambar beberapa objek yang sudah ditentukan. Berlangsung kira-kira 20 menit. Beberapa kali saya tes gambar, pasti gambar saya selalu berbeda dengan gambar kebanyakan. Objeknya tetap seperti yang diminta sih, tapi ada aja yang bikin ngga sama. Misal disuruh menggambar rumah, pohon dan orang. Yang lain kebanyakan menggambar dalam kadar normal, saya menggambar, ada pohon besar, rumah pohon, dan orang yang sedang bersantai di atas pohon. Selalu seperti itu. Dan saya sampai sekarang nggak tau, gimana psikolog mendeskripsikan grafis gambar milik saya. Tapi yasudahlah, kan gambar suka-suka kita, yang penting memuat objek yang diminta.
Lembar-lembar kami pun dikumpulkan. Selanjutnya, kakak yang berlaku sebagai moderator acara menjelaskan proses DA selanjutnya, kami akan dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan alur tes yang berbeda-beda sesuai giliran kelompoknya. Sebelumnya, kami dikondisikan seolah-olah sebagai tim pengajar muda di kabupaten (saya lupa namanya), yang menghadapi beberapa permasalahan. Disini misi kami adalah untuk mendiskusikan solusi dari permasalahan tersebut, melakukan audiensi dengan birokrat, sementara kita tetap mengajar di sekolah. Pokoknya bener-bener bermain peran.


FGD

Saya bersama kak nindya, kak heri, kak haphap, kak annisa dan kak icha mendapatkan giliran untuk melakukan FGD terlebih dahulu. Sebelum FGD kita sudah diberikan semacam lembar brieifing yang berisikan masalah-masalah yang ada di kabupaten tempat kita mengabdi dengan beberapa pilihan solusinya. Kita diberi waktu untuk memikirkannya sendiri, prioritas solusi apa yang akan kita pilih, beserta alasannya.
Setelah itu, FGD dimulai dengan masing-masing dari kita menyampaikan solusi apa yang akan kita prioritaskan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Oiya, ada dua kakak IM yang menilai keberjalanan diskusi juga. Yang menjadi seru ketika FGD, bahwa prioritas dari masing-masing orang berbeda-beda, ada beberapa yang sama, sementara, saya termasuk yang jawabannya berbeda. Dalam hati, lah gimana dah ini, mikirnya kok bisa beda dhewe. Tapi yaudah, mantep aja lah sama alasan yang kita sampaikan. Diskusi berlangsung selama 45 menit, dan kami baru menyepakati pilihan di menit-menit terakhir, setelah kerumitan mengeliminasi pilihan yang ada. Yang penting, selama FGD berlangsung, jadi diri sendiri, ngga usah ambisius, apalagi ngotot. Pake pikiran yang jernih, biar bisa menerima masukan dari semuanya, kalau emang pilihan solusi kita bukan yang terbaik, ya nggak papa, kita dukung pilihan lain yang lebih baik.
Waktu habis, dan kita diminta mempersiapkan hasil FGD untuk dibawa audiensi dengan dinas pendidikan dan sekretaris daerah setempat. Kelabakan dong, karena hasil FGD yang masih berupa konsep, dan belum dirincikan dalam bentuk program lanjutan. Akhirnya kita diberi waktu untuk merapikannya selama 15 menit.

Audiensi

Misi kita saat ini, adalah mendapatkan ijin dan dukungan dari birokrat untuk merealisasikan solusi dari permasalahan yang terjadi di kabupaten ini. Kita pun diminta untuk split tim menjadi dua. Tiga orang menemui sekda dan tiga lainnya menemui kepala dinas pendidikan. Ketika itu saya kebagian untuk menemui sekretaris daerah, bersama dengan kak haphap dan kak hari. Ya selayaknya masyarakat yang sedang berbicara dengan birokrat, kami pun menjelaskan maksud kedatangan kami, bla bla bla, dan rencana kami untuk memperbaiki kondisi di kabupaten ini. Kalo ada yang pernah ikut materi lobbying, ya kurang lebih seperti itu. Kita ditantang untuk bisa mengkomunikasikan usulan kita dengan sebaik-baiknya. Dan kakak-kakak IM ini pintar sekali mencari celah untuk mempertanyakan setiap usulan. Akhirnya, kita yang belum berembug sampai sejauh itu, mau nggak mau, saling menambal sulam untuk menjawab pertanyaan dari kakak-kakak IM yang berperan sebagai birokrat. Enggak dibuat-buat, tapi memang pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering diajukan birokrat ketika berdalih menghadapi masyarakat.

Simulasi Mengajar

Setelah istirahat siang, giliran tim saya dan kawan-kawan yang mendapatkan sesi simulasi mengajar di kelas. Sebelumnya, kami sudah diberikan materi yang akan disampaikan. Saya mendapatkan mata pelajaran matematik materi pecahan untuk kelas 1 SD. Mati, mati deh. Yang menarik dari simulasi mengajar ini, setiap peserta yang mengajar, akan mendapatkan tantangan yang berbeda-beda. Dan kita sebagai murid, diminta untuk bekerjasama dengan kakak-kakak IM bermain peran sesuai pengondisian kelasnya. Mulai dari ada penjual yang tiba-tiba berjualan di dalam kelas, murid yang hiperaktif, murid yang bikin kelas ngga kondusif karena pup di celana, sampai orangtua yang bikin rusuh kelas karena ngga ngebolehin anaknya sekolah. Saya dapat giliran anak-anak kelas yang semuanya pasif, pendiam. Mati gaya kan, udah mempersiapkan macam-macam, akhirnya sebisa mungkin saya ngajakin mereka tepuk-tepuk, dan berdialog, biar mereka aktif, jadi heboh sendiri. Dari simulasi mengajar ini, ternyata bukan sesuatu yang mengada-ada. Begitulah macam-macam kondisi yang pernah dihadapi para pengajar muda di desanya. Jadi ya kita belajar untuk bisa luwes dan cepat beradaptasi bagaimanapun kondisi murid-murid kita. Menarik.

Wawancara

Lelah yang mengasyikkan, dengan serangkaian kegiatan Direct Assesment yang menyenangkan. Di akhir DA, giliran tim kami yang mendapat jatah wawancara. Selayaknya wawancara, kita diminta untuk menceritakan banyak hal tentang diri kita, aktifitas, cita-cita, rencana kedepan dan masih banyak lainnya. Wawancara ini, semacam pendinginan setelah berbagai macam sesi yang melibatkan kerja-kerja otak dan fisik tadi. Kurang lebih satu jam setiap orang, kami pun sudah selesai seluruh sesi Direct Asessment dan kembali lagi ke ruang pertemuan awal tadi untuk menutup agenda.

Hal yang menyenangkan, bisa lagi dan lagi bertemu dengan banyak kawan baru dari berbagai domisili, terlepas bagaimana pun hasilnya, sepulangnya dari DA saya sudah benar-benar tidak berekspektasi akan lolos. Saya yakin, kawan-kawan yang saya kenal tadi lebih layak untuk berkesempatan menjadi pengajar muda. Pasrah saja, mengenai hasil insya Allah, gusti Allah tahu yang terbaik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar