Tentang
keinginan yang diam-diam selalu saya ucapkan dalam doa. Menjadi bagian dari
proses belajar bersama masyarakat di ujung Indonesia melalui program Indonesia
Mengajar. Ya, sejak tahun pertama kuliah, saya sudah menyematkan keinginan
tersebut sebagai hal pertama yang akan saya lakukan selepas kuliah. Dalam perjalanannya,
saya pun beberapa kali berkesempatan belajar dari kegiatan-kegiatan bersama
masyarakat selama saya menjadi mahasiswa. Bahwa yang katanya kita berikan,
percayalah, itu hanya sebagian kecil saja, dibandingkan banyak
pelajaran-pelajaran kehidupan yang kita dapatkan dari mereka.
Seleksi Berkas
Tepat satu
bulan setelah pendadaran, dibukalah pendaftaran Pengajar Muda angkatan XVII.
Niat sedari tahun awal berstatus mahasiswa, akan mulai saya perjuangkan.
Bismillah.
Tidak sebentar
saya menyelesaikan pendaftaran. Ada banyak sekali isian-isian yang harus
dilengkapi, mulai dari identitas diri, aktiftas-aktifitas yang pernah kita
ikuti, organisasi, dan yang paling menyenangkan adalah ketika menuliskan essay
di setiap pertanyaan yang diminta. Sekitar satu minggu, saya menghabiskan waktu
untuk menuliskan essay, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membuat saya
memutar ulang semangat-semangat ketika dulu berkegiatan, berdiskusi dengan
teman – teman yang memiliki niat baik dan mimpi yang sama, kemudian bagaimana
berembug memecahkan masalah dan banyak lainnya.
Sepenuhnya saya
menyadari, jika saya bukanlah kalangan aktifis sosial yang banyak
kontribusi-nya di kampus. Mungkin saya lebih banyak tenggelam dalam tugas-tugas
kampus atau organisasi mahasiswa. Ada banyak nama-nama kawan yang ketika itu,
saya rasa lebih pantas berjuang untuk ini. Tapi ya sudahlah, tidak ada yang
salah kan untuk niatan baik ini. Yang saya yakini ketika mendaftar Pengajar
Muda, bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan, akan menjadi pelajaran berharga
ketika kita membubuhi niat terbaik didalamnya, dan memaknai sekecil apapun
kontribusi kita.
Ya. Dari
menjawab banyaknya pertanyaan dalam form Pengajar Muda yang berupa essay
inilah, saya belajar untuk menghargai setiap kebaikan kecil yang pernah saya
lakukan, dan niat-niat baik yang selalu saya lafalkan dalam doa. Terpenting,
rasa terimakasih yang besar untuk orang-orang disekitar saya yang membersamai
dalam kebaikan-kebaikan kecil kita.
Setelah
menuntaskan segala persyaratan di dalam form Pengajar Muda, pada tanggal 25
Juni 2017, tepat hari dimana saya juga ketika itu sedang di Surabaya bersama
teman-teman untuk berangkat ke Rote, saya mendaftar.
“Setiap orang tentu memiliki pilihan yang menurutnya
paling berharga, dan membuat dia bahagia. Begitu pun, ketika saat ini saya
memutuskan untuk menjadi satu dari sekian banyak kawan yang memilih menjadi
pengajar muda. Karena, ada kebahagiaan yang saya dapatkan dengan belajar
bersama diantara masyarakat, saling berbagi kebermanfaatan, dan saling bertukar
ilmu. Karna bagi saya, seberapun tingginya saya mengenyam pendidikan, dan bagaimanapun
pendidikan orang yang saya temui, bukan sama sekali menunjukkan strata diantara
kita. Kita hanya sedang bertukar ilmu. Saya banyak belajar untuk mempraktekkan
ilmu dengan orang-orang yang saya temui selama berkegiatan sosial di
masyarakat, begitupun sebaliknya. Ketika terlibat dalam kegiatan sosial, saya
belajar untuk menghargai, memahami dan menumbuhkan kepekaan.”
Ketika itu ada
10.020 pendaftar Pengajar Muda angkatan XVII, pokoknya pasrah aja udah, yang
penting sudah mengusahakan yang terbaik. Sekitar sebulan saya menunggu hasil
seleksi berkas, pada tanggal 23 Juli 2018, ada email masuk yang mengabarkan
kalau berkas saya lolos untuk mengikuti seleksi tahap II yaitu Direct
Assesment. Seneng-nya bentar doang, karena justru berjuangnya baru akan
dimulai.
Direct
Assesment
Setelah
mendapatkan izin orangtua, pada tanggal 9 Agustus 2018 saya berangkat ke
Jakarta sendirian. Sebelumnya, teman se-kampus yang saya tau juga lolos sudah
terlebih dahulu mengikuti DA sesuai jadwalnya, beberapa hari yang lalu.
Sesampai di stasiun jatinegara, dini hari, saya langsung menuju kos adek di
daerah Cikini, untuk bersiap-siap dan menaruh barang-barang. Dengan kondisi
badan yang kurang fit karena se-enggak enak itu tidur di kereta, jadilah saya
bersegera untuk siap-siap.
Pagi hari
sebelum pukul 8, saya sampai di lokasi DA Indonesia Mengajar, IPMI Bussiness
School. Disitu, sudah ada beberapa peserta DA dan kakak-kakak IM yang sedang
mempersiapkan lokasi. Selayaknya peserta lain, Saya pun menghabiskan waktu
menunggu dengan kenalan dan ngobrol bersama mereka. Tidak beberapa lama,
panitia memanggil kami untuk masuk ke ruangan karena DA akan dimulai.
Direct
Assesment diawali dengan sambutan General Manager IM yang menjelaskan tentang
arah gerak IM sebagai prolog, sekaligus untuk memantapkan niat pagi itu. Lagi
dan lagi, selalu ada celah buat kepesimisan saya hadir. Merasa tidak pantas ada
disitu, dibanding kawan-kawan lain yang hari ini mengikuti DA, mereka jauh
lebih mumpuni. Bismillah, mencoba membangun lagi niat terbaik, mungkin Allah
pengen ngelihat usaha saya, toh yang bisa menilai pantas atau enggak kan bukan
saya, tapi gusti Allah. Baik kita mulai.
Tes Psikologi
Setelah selesai
perkenalan tentang Indonesia Mengajar, kami diberikan 3 lembar kertas HVS untuk
tes psikologi. Tes-nya ngga susah sih, pasti teman-teman pernah kok di suruh
tes yang semacam ini. Tes Grafis, jadi kita diminta untuk menggambar beberapa
objek yang sudah ditentukan. Berlangsung kira-kira 20 menit. Beberapa kali saya
tes gambar, pasti gambar saya selalu berbeda dengan gambar kebanyakan. Objeknya
tetap seperti yang diminta sih, tapi ada aja yang bikin ngga sama. Misal
disuruh menggambar rumah, pohon dan orang. Yang lain kebanyakan menggambar
dalam kadar normal, saya menggambar, ada pohon besar, rumah pohon, dan orang
yang sedang bersantai di atas pohon. Selalu seperti itu. Dan saya sampai
sekarang nggak tau, gimana psikolog mendeskripsikan grafis gambar milik saya.
Tapi yasudahlah, kan gambar suka-suka kita, yang penting memuat objek yang
diminta.
Lembar-lembar
kami pun dikumpulkan. Selanjutnya, kakak yang berlaku sebagai moderator acara menjelaskan
proses DA selanjutnya, kami akan dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan alur
tes yang berbeda-beda sesuai giliran kelompoknya. Sebelumnya, kami dikondisikan
seolah-olah sebagai tim pengajar muda di kabupaten (saya lupa namanya), yang
menghadapi beberapa permasalahan. Disini misi kami adalah untuk mendiskusikan solusi
dari permasalahan tersebut, melakukan audiensi dengan birokrat, sementara kita
tetap mengajar di sekolah. Pokoknya bener-bener bermain peran.
FGD
Saya bersama
kak nindya, kak heri, kak haphap, kak annisa dan kak icha mendapatkan giliran
untuk melakukan FGD terlebih dahulu. Sebelum FGD kita sudah diberikan semacam
lembar brieifing yang berisikan masalah-masalah yang ada di kabupaten tempat
kita mengabdi dengan beberapa pilihan solusinya. Kita diberi waktu untuk
memikirkannya sendiri, prioritas solusi apa yang akan kita pilih, beserta
alasannya.
Setelah itu,
FGD dimulai dengan masing-masing dari kita menyampaikan solusi apa yang akan
kita prioritaskan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Oiya, ada dua kakak IM
yang menilai keberjalanan diskusi juga. Yang menjadi seru ketika FGD, bahwa
prioritas dari masing-masing orang berbeda-beda, ada beberapa yang sama,
sementara, saya termasuk yang jawabannya berbeda. Dalam hati, lah gimana dah ini,
mikirnya kok bisa beda dhewe. Tapi
yaudah, mantep aja lah sama alasan yang kita sampaikan. Diskusi berlangsung
selama 45 menit, dan kami baru menyepakati pilihan di menit-menit terakhir,
setelah kerumitan mengeliminasi pilihan yang ada. Yang penting, selama FGD
berlangsung, jadi diri sendiri, ngga usah ambisius, apalagi ngotot. Pake
pikiran yang jernih, biar bisa menerima masukan dari semuanya, kalau emang
pilihan solusi kita bukan yang terbaik, ya nggak papa, kita dukung pilihan lain
yang lebih baik.
Waktu habis,
dan kita diminta mempersiapkan hasil FGD untuk dibawa audiensi dengan dinas
pendidikan dan sekretaris daerah setempat. Kelabakan dong, karena hasil FGD
yang masih berupa konsep, dan belum dirincikan dalam bentuk program lanjutan.
Akhirnya kita diberi waktu untuk merapikannya selama 15 menit.
Audiensi
Misi kita saat
ini, adalah mendapatkan ijin dan dukungan dari birokrat untuk merealisasikan
solusi dari permasalahan yang terjadi di kabupaten ini. Kita pun diminta untuk split tim menjadi dua. Tiga orang
menemui sekda dan tiga lainnya menemui kepala dinas pendidikan. Ketika itu saya
kebagian untuk menemui sekretaris daerah, bersama dengan kak haphap dan kak
hari. Ya selayaknya masyarakat yang sedang berbicara dengan birokrat, kami pun
menjelaskan maksud kedatangan kami, bla bla bla, dan rencana kami untuk
memperbaiki kondisi di kabupaten ini. Kalo ada yang pernah ikut materi
lobbying, ya kurang lebih seperti itu. Kita ditantang untuk bisa
mengkomunikasikan usulan kita dengan sebaik-baiknya. Dan kakak-kakak IM ini
pintar sekali mencari celah untuk mempertanyakan setiap usulan. Akhirnya, kita
yang belum berembug sampai sejauh itu, mau nggak mau, saling menambal sulam
untuk menjawab pertanyaan dari kakak-kakak IM yang berperan sebagai birokrat.
Enggak dibuat-buat, tapi memang pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering
diajukan birokrat ketika berdalih menghadapi masyarakat.
Simulasi
Mengajar
Setelah
istirahat siang, giliran tim saya dan kawan-kawan yang mendapatkan sesi
simulasi mengajar di kelas. Sebelumnya, kami sudah diberikan materi yang akan
disampaikan. Saya mendapatkan mata pelajaran matematik materi pecahan untuk
kelas 1 SD. Mati, mati deh. Yang menarik dari simulasi mengajar ini, setiap
peserta yang mengajar, akan mendapatkan tantangan yang berbeda-beda. Dan kita
sebagai murid, diminta untuk bekerjasama dengan kakak-kakak IM bermain peran
sesuai pengondisian kelasnya. Mulai dari ada penjual yang tiba-tiba berjualan
di dalam kelas, murid yang hiperaktif, murid yang bikin kelas ngga kondusif
karena pup di celana, sampai orangtua yang bikin rusuh kelas karena ngga
ngebolehin anaknya sekolah. Saya dapat giliran anak-anak kelas yang semuanya
pasif, pendiam. Mati gaya kan, udah mempersiapkan macam-macam, akhirnya sebisa
mungkin saya ngajakin mereka tepuk-tepuk, dan berdialog, biar mereka aktif,
jadi heboh sendiri. Dari simulasi mengajar ini, ternyata bukan sesuatu yang
mengada-ada. Begitulah macam-macam kondisi yang pernah dihadapi para pengajar
muda di desanya. Jadi ya kita belajar untuk bisa luwes dan cepat beradaptasi bagaimanapun
kondisi murid-murid kita. Menarik.
Wawancara
Lelah yang
mengasyikkan, dengan serangkaian kegiatan Direct Assesment yang menyenangkan.
Di akhir DA, giliran tim kami yang mendapat jatah wawancara. Selayaknya
wawancara, kita diminta untuk menceritakan banyak hal tentang diri kita,
aktifitas, cita-cita, rencana kedepan dan masih banyak lainnya. Wawancara ini,
semacam pendinginan setelah berbagai macam sesi yang melibatkan kerja-kerja
otak dan fisik tadi. Kurang lebih satu jam setiap orang, kami pun sudah selesai
seluruh sesi Direct Asessment dan kembali lagi ke ruang pertemuan awal tadi
untuk menutup agenda.
Hal yang
menyenangkan, bisa lagi dan lagi bertemu dengan banyak kawan baru dari berbagai
domisili, terlepas bagaimana pun hasilnya, sepulangnya dari DA saya sudah
benar-benar tidak berekspektasi akan lolos. Saya yakin, kawan-kawan yang saya
kenal tadi lebih layak untuk berkesempatan menjadi pengajar muda. Pasrah saja,
mengenai hasil insya Allah, gusti Allah tahu yang terbaik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar