Legowo : Saatnya mengusahakan yang lain
Lewat dua pekan, beberapa kawan berkabar di grup whats up kalau sudah mendapatkan email dan ada yang sudah dikabari via telepon oleh pihak IM kalau lolos ke tahap MCU. Beberapa yang dikabarkan via email, belum berkesempatan. Saya cek email, belum ada. Di telepon juga enggak. Tapi rasanya waktu itu, beneran legowo banget, karena sudah menghilangkan ekspektasi untuk lolos sepulangnya dari DA. Jadi ya, walopun belom dikabarin lewat email ataupun telepon, mikirnya udah “yaudah lah, engga bakal lolos juga, hihi”
Saya pun mulai beralih untuk mengusahakan niat baik lainnya pasca kampus. Mendaftar ke beberapa instansi kerja yang saya inginkan, dan mempersiapkan kepulangan ke rumah setelah 11 tahun merantau. Beberapa hari setelah wisuda, saya dan kawan-kawan merealisasikan rencana untuk mendaki Gunung Sindoro. Terbilang dadakan memang, tapi kawan saya dari Wonosobo ini sungguh baik, mau menemani saya untuk muncak sebelum pulang ke Bontang dan enggak bisa lagi. Bersama 4 kawan sekampus, dan 1 kawan SMA dari wonosobo, kami pun muncak pada tanggal 5-6 September. Karena nggak ada sinyal, HP non aktif selama 2 hari.
Belum tamat
Sepulangnya dari gunung Sindoro, saya bersama seorang kawan langsung menuju rumah eyang. Ternyata, ada beberapa riwayat panggilan, dari orangtua, eyang, kawan saya dari Jakarta, dan satu nomor asing. Mikir “kenapa eh?”
Begitu sampai di rumah eyang, eyang langsung ngendiko, “Umi kemaren di telpon Indonesia Mengajar, nanyain kok HPnya yana engga aktif. Pas nanya hasil seleksinya, katanya biar langsung dikabarin ke anaknya”. Saya sih berpikir, paling enggak lolos deh. Tapi kenapa sampai di telepon orangtua. Kemudian seorang kawan dari Jakarta bilang, kalau kemarin dia juga di telepon sama pihak IM juga, nanya seputar aktifitas saya. Emang bener sih, saya memberikan nomor dia sebagai reference number.
Paginya, beneran dari pihak IM menghubungi lagi. Dan mengabarkan kalau saya lolos ke tahap MCU atau tes kesehatan. Perasaannya, udah ngga bisa terharu lagi, karena sudah benar-benar tidak berekspektasi bisa lolos, lebih banyak merasa “Kok bisa sih?” saya ngga selayak itu dapet kesempatan ini. Di sisi lain juga serba galau, gimana enggak, wong lusa sudah dipesankan tiket untuk balik ke Bontang. Akhirnya, sembari menunggu surat tugas MCU ke lab di jogja, saya pun meminta ijin ortu.
Waktu mendapatkan kabar kalau saya lolos ke MCU, ortu yang semula mendukung saya menjadi pengajar muda, malah galau. Menanyakan, bisa enggak kalau mundur, engga usah diambil aja, dan beberapa lobbying biar saya tetep balik ke Bontang. Setelah menyepakati beberapa hal, karena tahap MCU ini tahap terakhir 90% akan lanjut ke penugasan, maka ortu mengijinkan untuk tes kesehatan, dengan kesepakatan tetap pulang ke Bontang dulu sebelum penugasan. Bismillah, masih belum tamat.
Hari sabtu pagi (8/9/18) saya melajukan motor dari Solo ditemani Rahma yang ketika itu dengan senang hati ikut ke Jogja cuman buat nganter MCU, terus balik lagi ke Solo naik prameks. Kami pun bergegas mengejar waktu sampai jogja sebelum jam 9. Sesampainya di Lab, sekitar jam 10 saya melakukan serangkaian cek kesehatan nggak sampai dua jam. Selesai MCU, saya mengantar rahma ke stasiun tugu, dan langsung ngebut ke temanggung untuk mempersiapkan kepulangan ke Bontang, sore harinya.
Epilog
Menuruti keinginan ortu untuk juga mengusahakan yang lain, sembari menunggu hasil dari tes tahap akhir IM, saya juga mengikuti seleksi internship di salah satu perusahaan BUMN di Bontang. Beberapa hari setelah seleksi, saya dikabarkan lolos dan berkesempatan untuk menjadi bagian dari Dept. Corporate Communication di bagian Community Develompent-nya. Kesempatan itu membuat saya dan ortu berdiskusi panjang, yang intinya ortu tetap berharap saya di Bontang dulu, ngambil kesempatan itu, tapi saya-nya masih pingin belajar sebagai pengajar muda. Beberapa hari setelahnya, saya mendapat kabar dari tim IM kalau nama saya masuk ke waiting list/cadangan, ditunggu info beberapa hari kedepan. Akhirnya, karena orangtua mungkin lebih ridho untuk saya menghabiskan waktu di Bontang, dan mengambil kesempatan yang lain, beberapa hari setelah itu, ada email masuk yang mengabarkan saya belum berkesempatan untuk menjadi pengajar muda periode ini.
Alhamdulillah wa syukurillah, semuanya perlu disyukuri. Allah emang tahu yang terbaik dan yang di ridhoi orangtua. Jika memang niat terbaik saya adalah belajar bersama masyarakat, sembari mengaplikasikan ilmu saya, maka Allah memberikan kesempatan lewat internship ini, menjadi bagian untuk terlibat dalam program-program pemberdayaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat Bontang. Jadi, Allah sudah dengan baik hati menunjukkan, kalau Pengajar Muda bukan satu-satunya jalan untuk bisa merealisasikan niat terbaik saya.
Setidaknya, saya pernah punya mimpi, dan sudah memperjuangkan. Perkara jalannya, Allah yang akan menentukan.
Pertanyaan terakhir, akan mencoba lagi menjadi Pengajar Muda?
Mungkin, hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar