Selasa, 20 November 2018

Review Black Mirror Season I : Fifteen Millions Merits

"I just want something real to happen"

Kesan pertama nonton film ini, cukup membosankan. Sangat biasa dengan penceritaan rutinitas si tokoh dari bangun tidur sampai tidur lagi. Namun, kesan futuristik yang diangkat sepanjang cerita, membuat aku tetap bertahan menonton. Sampai kira-kira menit ke sepuluh, dan aku terkagum-kagum “Wow, ceritanya menarik! relate banget dengan yang terjadi saat ini.” Lebay sih. Haha. Tapi setelah tau alur yang coba disampaikan film ini, aku langsung ngulangin dari awal, untuk mencermati setiap semiotik pesan yang sangat menarik disuguhkan. Here we go!

Secara umum, Fifteen Millions of Merits menceritakan realitas manusia yang hidup dikelilingi teknologi, dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Mereka melakukan aktifitas yang sama setiap harinya, bangun tidur, membersihkan diri, mengayuh sepeda gym, makan, dan tidak ada yang lain. Penggambaran manusia yang menjalani rutinitas yang sama setiap harinya, dengan ekspresi datar, tatapan kosong, seakan pembuat film ingin menyampaikan bahwa dominasi teknologi terhadap manusia membuat mereka seperti robot bernyawa. Setiap hari, mereka mengayuh sepeda gym untuk mendapatkan poin. Poin yang didapatkan, kemudian dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, sikat gigi, dan tentunya menikmati hiburan.

Pundi-pundi poin yang dikumpulkan dengan usaha mati-matian

Sorotan dari cerita ini, adalah Bing sebagai tokoh utama, yang jatuh hati pada seorang wanita. bernama Abi Ia ingin membantunya untuk masuk ke dalam kompetisi bakat, meski poin yang harus ditebus sangat mahal. Namun, tidak seperti yang diharapkan, Abi yang dirasa Bing sangat berbakat tersebut, justru gagal menjadi superstar dalam ajang pencarian bakat Hot Shot. Dengan iming-iming akan terlepas dari kehidupannya yang nelangsa, Abi justru menerima tawaran juri untuk menjadi ‘penghibur’ agar nasibnya berubah, meskipun dengan berat hati. Bing merasa kecewa, dan ia merencanakan pembalasan, kepada para juri yang telah merendahkan Abi. Ia bertekad untuk bisa mendapatkan panggung di HotShot, dan berbicara kepada juri tentang betapa ‘mereka’ telah dengan bodoh percaya pada iming-iming semu yang selama ini disuguhkan melalui layar di depan mereka. Dimulailah usaha Bing mengayuh sepeda mati-matian untuk mengumpulkan poin sebanyak 15.000 demi mendapatkan golden tiket Hot Shot.


Manusia yang menikmati hiburan dalam layar kamar-nya
Dengan kesan futuristik yang semakin menegaskan bahwa manusia ada di masa seluruh kehidupan mereka dikontrol oleh teknologi, menurutku pesan yang coba disampaikan film ini sangat dalam. Penggambaran manusia yang hanya ada dalam sekotak ruang sempit, namun seakan mereka bisa merasakan dunia luar, meski hanya dalam ruang itu, semacam sindiran telak bagi apa yang terjadi saat ini. Dimana manusia hanya dengan memegang gawai, merasa dapat menjangkau semua yang dia inginkan. Iming-iming semu yang sebenarnya hanya dinikmati lewat layar. Hal ini tampak dari penonton Hot Shot yang digambarkan dalam bentuk avatar di kursi penonton ajang pencarian bakat Hot Shot, sementara realitanya mereka sedang menikmati tontonan di dalam kamar, yang seakan menegaskan bahwa manusia benar-benar sudah terpasung teknologi. Mereka merasa dapat melihat dunia dengan layar di depannya, namun sesungguhnya mereka sedang terperangkap dalam kotak teknologi

Rutinitas mengayuh sepeda gym untuk mengumpulkan poin

Digambarkan juga rutinitas manusia yang tiap hari mengayuh sepeda gym yang hanya tetap di tempat, seperti orang-orang yang terus bekerja keras, mengumpulkan uang, namun sayangnya mereka tidak akan pernah bisa mencapai standar yang dikonstruksi layar yang setiap hari ditontonnya. Sementara di layar kaca, mereka terus dibuai dengan keinginan setinggi langit, yang sebenarnya tidak akan pernah mereka rasakan secara nyata. Hal ini tampak menarik dengan penggambaran setiap orang memiliki layar kaca di depan sepeda gym-nya, dan selama mengayuh selama itu pula mereka menikmati apa yang disajikan di layar kaca.


Plot twist-nya ketika penonton dibawa emosinya oleh Bing (tokoh utama), yang sedang merencanakan perlawanan di panggung Hot Shot, sampai di klimaks, dan ia diberikan iming-iming popularitas, untuk mengubah nasibnya. Aku ngga nyangka sih, dan cukup kecewa kenapa akhirnya Bing setuju, dan menelang omongannya senrdiri. Meskipun sebenarnya, Bing sangat membenci orang-orang dibalik konstruksi semu itu, namun dia tidak ingin hidup nelangsa selamanya. Seakan menjadi gambaran buat kita, kalau sekuat apapun usaha kita, untuk lepas dari kungkungan teknologi dan konstruksi sistem, jawabannya adalah sangat susah.



Di ending, digambarkan Bing dengan rutinitas barunya, sebagai entertainer di layar monitor yang sudah berubah nasibnya, berpindah dari ruang kotak sempit menjadi lebih luas. Yang menjadi paradoks adalah, Bing dengan muka datar, menatap kosong pemandangan di depannya yang terbatasi oleh kaca. Tidak ada kebebasan, ia masih di dalam kungkungan kotak, yang hanya lebih luas ukurannya. Menunjukkan bahwa, manusia yang terus terpasung dalam ruang teknologi tanpa bisa bebas, meskipun jangkauan yang dimilikinya semakin luas. Tapi ketergantungan itu, tanpa akhir.

Menurutku, semiotik – semiotik yang terdapat di film ini sangat menarik untuk dicermati, karena dengan apik dan blak-blakan menyindir bagaimana manusia didegradasi menjadi makhluk pekerja yang terpasung dalam ruang teknologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar