![]() |
| "I just want something real to happen" |
Kesan pertama
nonton film ini, cukup membosankan. Sangat biasa dengan penceritaan rutinitas
si tokoh dari bangun tidur sampai tidur lagi. Namun, kesan futuristik yang diangkat
sepanjang cerita, membuat aku tetap bertahan menonton. Sampai kira-kira menit
ke sepuluh, dan aku terkagum-kagum “Wow, ceritanya menarik! relate banget dengan yang terjadi saat ini.” Lebay sih. Haha. Tapi setelah
tau alur yang coba disampaikan film ini, aku langsung ngulangin dari awal,
untuk mencermati setiap semiotik pesan yang sangat menarik disuguhkan. Here we
go!
Secara
umum, Fifteen Millions of Merits menceritakan realitas manusia yang hidup
dikelilingi teknologi, dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Mereka melakukan
aktifitas yang sama setiap harinya, bangun tidur, membersihkan diri, mengayuh
sepeda gym, makan, dan tidak ada yang
lain. Penggambaran manusia yang menjalani rutinitas yang sama setiap harinya,
dengan ekspresi datar, tatapan kosong, seakan pembuat film ingin menyampaikan bahwa dominasi teknologi terhadap manusia
membuat mereka seperti robot bernyawa. Setiap hari, mereka mengayuh sepeda gym untuk mendapatkan poin.
Poin yang didapatkan, kemudian dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti
makan, sikat gigi, dan tentunya menikmati hiburan.
![]() |
| Pundi-pundi poin yang dikumpulkan dengan usaha mati-matian |
Sorotan
dari cerita ini, adalah Bing sebagai tokoh utama, yang jatuh hati pada seorang
wanita. bernama Abi Ia ingin membantunya untuk masuk ke dalam kompetisi bakat, meski poin
yang harus ditebus sangat mahal. Namun, tidak seperti yang diharapkan, Abi yang dirasa Bing sangat berbakat tersebut, justru gagal menjadi superstar dalam ajang pencarian bakat Hot Shot. Dengan iming-iming akan
terlepas dari kehidupannya yang nelangsa,
Abi justru menerima tawaran juri untuk menjadi ‘penghibur’
agar nasibnya berubah, meskipun dengan berat hati. Bing merasa kecewa, dan ia
merencanakan pembalasan, kepada para juri yang telah merendahkan Abi. Ia
bertekad untuk bisa mendapatkan panggung di HotShot,
dan berbicara kepada juri tentang betapa ‘mereka’
telah dengan bodoh percaya pada iming-iming semu yang selama ini disuguhkan
melalui layar di depan mereka. Dimulailah usaha Bing mengayuh sepeda
mati-matian untuk mengumpulkan poin sebanyak 15.000 demi mendapatkan golden
tiket Hot Shot.
![]() |
| Manusia yang menikmati hiburan dalam layar kamar-nya |
Dengan
kesan futuristik yang semakin menegaskan bahwa manusia ada di masa seluruh
kehidupan mereka dikontrol oleh teknologi, menurutku pesan yang coba
disampaikan film ini sangat dalam. Penggambaran manusia yang hanya ada dalam sekotak
ruang sempit, namun seakan mereka bisa merasakan dunia luar, meski hanya dalam
ruang itu, semacam sindiran telak bagi apa yang terjadi saat ini. Dimana manusia
hanya dengan memegang gawai, merasa dapat
menjangkau semua yang dia inginkan. Iming-iming semu yang sebenarnya hanya
dinikmati lewat layar. Hal ini tampak dari penonton Hot Shot yang digambarkan dalam bentuk avatar di kursi penonton ajang
pencarian bakat Hot Shot, sementara
realitanya mereka sedang menikmati tontonan di dalam kamar, yang seakan menegaskan
bahwa manusia benar-benar sudah terpasung teknologi. Mereka merasa dapat
melihat dunia dengan layar di depannya, namun sesungguhnya mereka sedang
terperangkap dalam kotak teknologi
![]() |
| Rutinitas mengayuh sepeda gym untuk mengumpulkan poin |
Digambarkan
juga rutinitas manusia yang tiap hari mengayuh sepeda gym yang hanya tetap di tempat, seperti orang-orang yang terus
bekerja keras, mengumpulkan uang, namun sayangnya mereka tidak akan pernah bisa mencapai standar yang dikonstruksi layar yang setiap hari ditontonnya. Sementara di layar kaca, mereka terus dibuai dengan keinginan setinggi
langit, yang sebenarnya tidak akan pernah mereka rasakan secara nyata. Hal ini
tampak menarik dengan penggambaran setiap orang memiliki layar kaca di depan sepeda
gym-nya, dan selama mengayuh selama
itu pula mereka menikmati apa yang disajikan di layar kaca.
Plot twist-nya ketika penonton dibawa
emosinya oleh Bing (tokoh utama),
yang sedang merencanakan perlawanan di panggung Hot Shot, sampai di klimaks, dan ia diberikan iming-iming
popularitas, untuk mengubah nasibnya. Aku ngga nyangka sih, dan cukup kecewa
kenapa akhirnya Bing setuju, dan menelang omongannya senrdiri. Meskipun
sebenarnya, Bing sangat membenci orang-orang dibalik konstruksi semu itu, namun dia tidak ingin hidup nelangsa selamanya. Seakan menjadi gambaran buat kita, kalau sekuat apapun usaha kita, untuk lepas
dari kungkungan teknologi dan konstruksi sistem, jawabannya adalah sangat susah.
Di
ending, digambarkan Bing dengan rutinitas barunya, sebagai entertainer di layar monitor yang sudah
berubah nasibnya, berpindah dari ruang kotak sempit menjadi lebih luas. Yang menjadi paradoks adalah, Bing dengan
muka datar, menatap kosong pemandangan di depannya yang terbatasi oleh kaca. Tidak ada kebebasan, ia masih di dalam kungkungan kotak, yang hanya lebih luas ukurannya. Menunjukkan bahwa, manusia yang terus
terpasung dalam ruang teknologi tanpa bisa bebas, meskipun jangkauan yang dimilikinya
semakin luas. Tapi ketergantungan itu, tanpa akhir.
Menurutku,
semiotik – semiotik yang terdapat di film ini sangat menarik untuk dicermati,
karena dengan apik dan blak-blakan
menyindir bagaimana manusia didegradasi menjadi makhluk pekerja yang terpasung
dalam ruang teknologi.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar