Sabtu, 16 Juni 2018

Dongeng Kakek tentang Tanah Surga


Dahulu, aku begitu takjub menyimak dongeng kakek, membayangkan betapa maha sempurnanya tanah kelahiranku yang diberi nama Indonesia. Tak salah jika sesiapa yang mengenalnya, menyebut Indonesia lah sepenggal surga di dunia. Semasa kecil, lagu “Nenek Moyangku Pelaut” pun begitu membius kanak-kanak sepertiku, membuat setiapnya membayangkan alangkah menyenangkan berlayar melintas lautan biru diantara gugusan pulau Indonesia seperti nenek moyang. Lagu “Menanam Jagung” juga tak kalah membuat kanak-kanak ingin mencicipi rasanya mencangkul dan berladang di lahan hijau negeriku yang bisa dinikmati sejauh mata memandang. Duh, siapa yang tak bangga terlahir di Indonesia?

Kelas Jingga 2016


Berbaur dalam ruang belajar yang membebaskan pikiran, kata, tawa, udara, cericitan, dan segala ramuan mahadahsyat dari orang biasa-biasa saja. Tak ada meja kursi yang menghimpit pernapasan, membuat sulit menumpahkan isi pikiran. Tak ada ruang sempit berbatas tembok kotak membatasi ide-ide brilian. 

Masih bermain dalam lingkaran @kelasjingga 

Migrasi unggahan dari https://yannauzlifa.tumblr.com/

Perjalanan #2



ada beragam pasang kaki yang juga melangkah menuju tujuannya. Entah sama atau berbeda. Tapi semoga, langkah kaki kita ada pada tujuan yang kita yakini kebenarannya~

Perjalanan #1



“Tembok penuh coretan dan ubin berlubang, menjadi tempat mereka menikmati senja. Mereka yang menggantungkan papan dan pangannya pada sudut penyebrangan ini” -_ Pada suatu sore, menuju kembali. 

(di Bungurasih Surabaya International Bus Station)