Belakangan saya baru menyadari
kekaguman saya yang teramat sangat sama serial kartun animasi karya budak-budak Malaysia
yang akrab dengan judul Upin dan Ipin itu.
Hal tersebut bermula ketika
perasaan jengah saya menyaksikan si adek yang demen banget mantengin televise di
jam prime time kayak gini, hanya untuk menyempatkan diri menonton sinetron
roman picisan remaja atau komedi slapstick yang kini marak di layar kaca itu. Terang saja, dengan sedaya upaya jam itu juga,
saya mati-matian membajak televise dengan memindahkan channel ke stasiun berita
atau kompasTV. Karna sudah merasa tak berdaya oleh sang kakak, akhirnya si adek
menyerah dan beralih fokus pada layar leptop yang sejenak nganggur di ruang tengah. Dan tetiba
beberapa masa, ia sudah asik dengan tontonan barunya itu di layar leptop.
