Senin, 15 Oktober 2018

Gugusan Pantai di Desa Lalang Belitung Timur


Pantai Nyiur Melambai
Syahdunya Senja Teriring Tawa

Senja di pantai nyiur melambai

Kamek tak tau, apa yang lebih menyenangkan dari menghabiskan sore di Pantai Nyiur Melambai. Pantai yang lebih akrab dikenal dengan nama Pantai Lalang ini, merupakan tepian pantai terbesar di Desa Lalang. Dibanding dengan beberapa pantai lainnya juga, pantai nyiur melambai memiliki berbagai pernak-pernik yang lebih lengkap, seperti sarana olah raga, deretan saung untuk duduk bersantai, panggung yang disediakan untuk beberapa acara tahunan Belitung timur, deretan kios berjualan dan masih banyak lagi lainnya. Sehingga, banyak dari kegiatan-kegiatan rutin warga yang diadakan di Pantai Nyiur Melambai, mulai dari senam ibu-ibu, kumpulan karang taruna, bermain volley dan sepakbola pantai.
Biasanya, pantai akan mulai terlihat ramai sore hari, hingga matahari tenggelam. Termasuk kamek, setelah melaksanakan rutinitas kegiatan KKN, atau ketika ada waktu senggang di sore hari, kami selalu senang berbondong-bondong menuju Pantai Lalang. Tidak sendiri, biasanya diikuti dengan segerombolan bocah-bocah desa lalang seusai mereka menuntaskan tugasnya di posko kamek.

“Kakak, ayok nak ajak kamek main bola di pantai!”

“Kakak, kamek nak mukat. Ayok ke Pantai Lalang!”

Sore hari di Pantai Nyiur Melambai, adalah wajib untuk mencicipi nikmatnya bakso ikan di deretan penjaja makanan di pinggir pantai. Dari ujung ke ujung, rasanya tetap sama lezatnya. Kemudian, dengan serta merta para kawan lelaki turut bergabung dengan pemuda desa bermain sepak bola atau volley pantai. Kemudian para kawan perempuan biasanya bersibuk mengawasi adek-adek yang turut serta bersama kami ke Pantai Lalang. Seringnya sih, mereka sudah asik mencari ikan atau biasanya mereka bilang “mukat”. Asyiknya juga, setiap sore warga desa lalang sering “mukat” bersama, dan kamek mendapatkan cipratan hasil tangkapan ikan mereka. Sembari berbincang dengan para warga.

Anak-anak yang menunjukkan perburuan mukat-nya

Menjelang senja, keramaian sudah tak begitu menghinggap. Kami pun memilih untuk menduduki satu sudut dan melanjutkan bercengkerama. Ada yang sibuk mengambil gambar, ada yang memilih berenang, ada yang tidur-tiduran sembari menikmati music, pokoknya apapun hingga senja menampakkan jingganya. Yak. Itu yang kami tunggu!


Dermaga Oli Pier
Perjuangan menyapa sekawanan lumba-lumba

Sunrise di dermaga

Kalau boleh kukatakan, Dermaga olipier merupakan sudut menakjubkan yang tersembunyi di Desa Lalang. Bagaimana tidak, jika untuk mencapai tempatnya saja kami harus menuju ujung desa,  membelah hutan, dan menyusuri jalan setapak yang sempit dan berlubang. Namun, tak pernah disesalkan setiap kali kami bersusah payah melewati sempit dan licinnya jalan setapak. Karena, diujung perjalanan, yang lebih mirip padang rumput itu, kami sudah dapat menyaksikan bibir pantai dan sudut dermaga tua diantara rindangnya pepohonan.
Kala itu, beberapa diantara kami telah bersiap menyusur jalan setapak menuju Dermaga Oli Pier sebelum matahari menampakkan wujudnya. Berniat untuk mengabadikan momen terbitnya matahari, kami pun sudah menapak di tepi dermaga setelah melewati rumitnya medan dalam keadaan yang masih cukup gelap. Bersyukurlah ketika itu, cuaca sedang sangat baik, tidak mendung sedikitpun, bahkan semilir anginnya membuat kami semakin menikmati momen matahari terbit di pinggir dermaga.
Dermaga Oli Pier sudah ada semenjak beroperasinya PT Timah di Desa Lalang. Konon katanya, dermaga ini merupakan tempat singgahnya kapal-kapal besar dari tempat yang nun jauh disana. Sehingga, jika hari ini kau melihat pondasi dermaga tua tersebut, masih tampak kerangka bangunan yang sangat kokoh meskipun sudah berkarat. Namun, setelah kepergian PT Timah, banyak besi-besi yang diambil oleh warga sehingga hanya menyisakan pondasi. Kemudian, pondasi tersebut dipasang papan – papan kayu untuk bisa menyambungkan pondasi satu dengan yang lain, sehingga warga desa tetap bisa menikmati pantai dari ujung dermaga.

Jembatan kayu di Dermaga Olipier

Papan yang tampak rapuh tersebut membuat kami bergidik ketika hendak mencobanya. Setelah puas menikmati momen matahari terbit, kami pun tertantang untuk sampai ke ujung dermaga tua itu ketika menyaksikan seorang warga yang berhasil mencapai ujung untuk memancing. Bermodalkan jiwa sok berani dan nekat, beberapa diantara kami pelan – pelan menyusuri satu demi satu papan yang ketika kaki kami menapak lantas bergoyang. Maju mundur, mulanya. Namun, setelah satu persatu terlewati, rasanya tidak semengerikan yang dibayangkan.
Yaps, sampai akhirnya kami berhasil menapak di tengah dermaga. Cukup sampai disitu saja, karna kami tidak yakin mampu melanjutkan titian berikutnya. Sesampai ditengah dermaga, kami memilih untuk duduk duduk sebentar menikmati semilir angin, dan silaunya matahari yang mulai meninggi. Melayangkan pandangan ke tengah pantai, kemudian.
“Eh liat, itu lumba-lumba!”
Salah satu dari kami berteriak takjub, diikuti sorotan mata lainnya yang langsung fokus pada titik si kawan menunjuk. Waw, mungkin untuk pertama kalinya, dan begitu senangnya kami menyaksikan sekawanan lumba-lumba yang timbul tenggelam di tengah pantai. Bukan sia-sia perjuangan kami melewati papan-papan mengerikan menjejak pondasi dermaga tua. Ada sekawanan lumba – lumba yang menyapa.


Pantai Oli Pier
Warna – Warni Perahu Tradisional

Dokumentasi Anin/Perahu Nelayan


Tidak puas menikmati uniknya dermaga tua oli pier, kami beranjak menuju bibir pantai yang lokasinya tak jauh dari dermaga. Dengan medan yang sama rumitnya, kami pun mencapai bibir pantai Oli Pier. Jika pagi hari merupakan waktu sempurna untuk menikmati dermaga tua oli pier, maka, sore hari-lah waktu yang paling tepat untuk bermain di tepian pantainya.
Menjejak di pantai ini selalu membawa suasana yang menentramkan. Berbeda dengan pantai Lalang, Pantai Oli Pier begitu sepi ketika sore hari. Kalo bahasa kami, kayak pantai punya sendiri, karna tidak ada lagi siapapun selain kami yang ketika sore itu bermain disana.
Angin semilir yang membuat dedaunan dan rumput bergesekan menari, ombak kecil yang berlomba mencapai tepi pantai, seolah menciptakan harmoni tersendiri yang membuat kami suka sekali menikmati sunyi-nya pantai ini.

Seenak itu bersantai di tepian pantai
Di tepian kala sore, pemandangan lain juga menyihir mata kami. Sederetan warna-warni perahu tradisional nelayan, berjejer rapi selayaknya sedang unjuk keindahannya pada kami. Uniknya, perahu tradisional warna-warni ini hanya bisa kami nikmati melalui mata saja. Karna di setiap perahu sudah bertengger tulisan, bahwa perahu-perahu tersebut tidak boleh disentuh selain oleh yang punya. Entah, ada mitos yang berkembang di masyarakat, yang menjadi bagian dari keunikan warga Belitung timur ini.
Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai Pantai Oli Pier, selain ketenangan suasananya, warna-warni perahu tradisional nelayan dan keindahan tepian pantainya yang masih perawan. Tapi, menghabiskan sore di pantai ini, sangat menjadi favorit kami.

Pantai Teropong
Matahari yang datang dan Pak Nelayan yang Pulang

Saung tempat meneropong
Tak hanya senja yang tampak manis menutup hari kamek di Desa Lalang. Namun, salah satu dari gugusan pantai yang memanjang di desa kamek juga menjadi tempat yang menakjubkan untuk menyambut datangnya matahari ketika pagi. Pantai Teropong, yang kalau dideskripsikan lokasinya ada diantara pantai Nyiur Melambai dan Pantai Olipier.
Dinamakan Pantai Teropong, karena lokasi pantai ini yang meskipun berderet dengan kawan pantai lainnya, namun ada bukit kecil diatasnya bertengger beberapa saung. Di Saung-saung inilah kamek berada lebih tinggi diantara tepian pantai, sehingga bisa mengedarkan pandangan sejauh mungkin. Dari saung Pantai Teropong ini, kamek juga bisa menikmati tepian pantai nyiur melambai dan dermaga tua olipier.
Karna letaknya yang lebih tinggi, kami bisa dengan leluasa menyaksikan matahari terbit dari saung Pantai Teropong. Pagi hari seperti biasanya, kami sudah menapak di Pantai Teropong, sembari bercengkrama di saung, menunggu momen terbitnya matahari. Ada juga diantara kami yang lebih suka mengabadikan momen, mengambil gambar, atau sekedar tiduran mendengarkan music menikmati semburat matahari yang mulai nampak.

Kapal nelayan yang sudah pulang
Langit yang mulai menguning, pertanda matahari sudah datang. Semburatnya yang semakin tinggi memuat kami semakin memicingkan mata. Ada momen yang menarik ketika kami menikmati munculnya semburat kuning matahari pagi dari pantai teropong. Mengedarkan pandangan jauh ke tengah laut, kami bisa menyaksikan para nelayan yang hendak pulang setelah melaut semalaman.
Ya. Semburat kuning yang memantulkan cahayanya di tengah laut, pertanda matahari datang, dan perahu-perahu nelayan yang bergegas pulang, menjadi perpaduan yang begitu sempurna di pantai teropong pada pagi hari.

Pantai Mudong
Tepian Sepanjang Jalan Kenangan

Tepian Mudong
Sore itu beberapa diantara kami merencanakan untuk menengok Pantai Mudong. Tertantang menjawab rasa penasaran kami tentang keberadaan pantai ini. Berangkatlah sore yang cerah tersebut mengikuti penunjuk arah di Desa Lalang. Sampai ujung dusun Sekip, penunjuk arah menuju Pantai Mudong sudah tidak ada lanjutannya lagi. Kami pun bertanya pada warga setempat, dan ditunjukkanlah kami menuju sebuah jalan yang dikanan-kirinya terdapat padang sejauh mata memandang.
Kaisar yang kami naiki pun melaju membelah padang ilalang tersebut, beruntungnya jalan menuju pantai ini sudah beraspal, meskipun tidak lebar. Sepanjang jalan ditemani angin yang semilir, cukup jauh kami membawa Kaisar melaju. Namun, pemandangan sepanjang jalan kecil ini begitu menyenangkan, padang ilalang, segerombolan sapi yang merumput, dan deretan warkop-warkop kecil.
Sepanjang 7 km kurang lebih kami menyusuri jalan yang lurus tanpa ada belokan. Masih dengan padang ilalang sejauh mata memandang, kami pun penasaran, kemana jalan ini akan bermuara. Katanya sih ke pantai mudong, yang kami cari. Tapi, tak kunjung sampai juga.
Hampir menyerah, rupanya sisi kiri jalan yang kami lalui mulai menampakkan tepian pantai. Nah, sampailah kami di Tepian pantai mudong. Namun, kami masih melanjutkan perjalanan, menyusuri dimana muara pantai mudong. Kemudian, pemandangan sisi kiri kami sudah berganti menjadi tepian pantai sejauh mata memandang, ada beberapa muda-mudi yang kami temui singgah di tepian tersebut, sekedar menghabiskan sore.


Rupanya tepian pantai mudong ini, sangat panjang. Kurang lebih 3 km kami menyusuri, baru kami mendapati sebuah plang nama using yang sudah susah terbaca bertuliskan “Pantai China”. Muara pantai ini sangat sepi, ada beberapa gubuk warung kopi yang berdebu, dan tidak dihuni. Macam film horror ketika itu kami bayangkan. Didorong rasa penasaran, kami pun masuk ke tepian pantai yang menurut plang namanya “Pantai China”, dengan rasa penasaran “lalu, pantai mudong dimana”
Salah satu dari kami berinisiatif, bertanya pada nelayan yang cukup jauh keberadaannya dari tepian pantai. Sejenak ia pun kembali
“Ternyata, pantai china itu nama lain pantai mudong. Trus tepian sepanjang jalan yang kita lalui tadi, itu sudah masuk pantai mudong”
Dan kami Ber O serentak. Karna hari sudah semakin senja, kami pun bersepakat untuk segera kembali. Disambut semburat jingga yang menemani perjalanan kembali, menyusuri padang ilalang sepanjang jalan kenangan. Yak, Pantai Mudong, sudah cukup menjawab rasa penasaran kami.

Bukit Samak
Deretan Pantai Sejauh Mata Memandang

Homestay di bukit samak
Kalau tadi sudah puas mengulas betapa menakjubkannya maha karya Tuhan pada deretan pantai desa lalang, maka, Bukit Samak merupakan tempat terbaik untuk menikmati semuanya. Bukit Samak adalah salah satu objek wisata yang berada di puncak bukit kecil dusun samak, masih di Desa Lalang. Kalo bahasa ala kita-nya, mungkin semacam gardu pandang. Karna dari saung warna-warni yang ada di Bukit Samak, kami bisa menyaksikan keindahan Desa Lalang lengkap dengan gugusan pantainya, dan hijau pepohonan yang bertengger di bukit ini.
Untuk sampai ke bukit samak, kami hanya perlu melajukan motor kurang lebih 5 menit dari posko KKN kami. Sepanjang jalan, kami sudah bisa melihat deretan pantai dibawah sana. Oiya selain itu, kami juga akan melewati rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati Belitung Timur, kalau mau mampir boleh juga. Sesampainya disana, ngga hanya ada pondokan-pondokan warna-warni tempat untuk bercengkerama dan menikmati pemandangan. Ada juga beberapa villa kecil yang disewakan untuk wisatawan.
Spot paling asik buat menikmati pemandangan ini adalah di ayunan yang bertengger diantara dua pondokan. Pandangan mata kami berhenti pada garis pertemuan antara hijaunya pantai yang berkilau karna cahaya matahari dan birunya langit yang semakin cantik dihiasi awan putih berarak. Gradasi yang sangat sempurna.



Kilas balik Januari 2017
Catatan perjalanan yang dibuang sayang~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar