Pantai Nyiur Melambai
Syahdunya Senja Teriring Tawa
Kamek tak tau, apa yang lebih menyenangkan dari menghabiskan sore di Pantai Nyiur Melambai. Pantai yang lebih akrab dikenal dengan nama Pantai Lalang ini, merupakan tepian pantai terbesar di Desa Lalang. Dibanding dengan beberapa pantai lainnya juga, pantai nyiur melambai memiliki berbagai pernak-pernik yang lebih lengkap, seperti sarana olah raga, deretan saung untuk duduk bersantai, panggung yang disediakan untuk beberapa acara tahunan Belitung timur, deretan kios berjualan dan masih banyak lagi lainnya. Sehingga, banyak dari kegiatan-kegiatan rutin warga yang diadakan di Pantai Nyiur Melambai, mulai dari senam ibu-ibu, kumpulan karang taruna, bermain volley dan sepakbola pantai.
Biasanya, pantai akan mulai
terlihat ramai sore hari, hingga matahari tenggelam. Termasuk kamek, setelah
melaksanakan rutinitas kegiatan KKN, atau ketika ada waktu senggang di sore
hari, kami selalu senang berbondong-bondong menuju Pantai Lalang. Tidak
sendiri, biasanya diikuti dengan segerombolan bocah-bocah desa lalang seusai
mereka menuntaskan tugasnya di posko kamek.
“Kakak, ayok nak ajak kamek main bola di pantai!”
“Kakak, kamek nak mukat. Ayok ke Pantai Lalang!”
Sore hari di Pantai Nyiur
Melambai, adalah wajib untuk mencicipi nikmatnya bakso ikan di deretan penjaja
makanan di pinggir pantai. Dari ujung ke ujung, rasanya tetap sama lezatnya.
Kemudian, dengan serta merta para kawan lelaki turut bergabung dengan pemuda
desa bermain sepak bola atau volley pantai. Kemudian para kawan perempuan
biasanya bersibuk mengawasi adek-adek yang turut serta bersama kami ke Pantai
Lalang. Seringnya sih, mereka sudah asik mencari ikan atau biasanya mereka
bilang “mukat”. Asyiknya juga, setiap sore warga desa lalang sering “mukat”
bersama, dan kamek mendapatkan cipratan hasil tangkapan ikan mereka. Sembari
berbincang dengan para warga.
![]() |
| Anak-anak yang menunjukkan perburuan mukat-nya |
Menjelang senja, keramaian sudah
tak begitu menghinggap. Kami pun memilih untuk menduduki satu sudut dan melanjutkan
bercengkerama. Ada yang sibuk mengambil gambar, ada yang memilih berenang, ada
yang tidur-tiduran sembari menikmati music, pokoknya apapun hingga senja
menampakkan jingganya. Yak. Itu yang kami tunggu!
Dermaga Oli Pier
Perjuangan menyapa sekawanan lumba-lumba
Kalau boleh kukatakan, Dermaga
olipier merupakan sudut menakjubkan yang tersembunyi di Desa Lalang. Bagaimana
tidak, jika untuk mencapai tempatnya saja kami harus menuju ujung desa, membelah hutan, dan menyusuri jalan setapak
yang sempit dan berlubang. Namun, tak pernah disesalkan setiap kali kami
bersusah payah melewati sempit dan licinnya jalan setapak. Karena, diujung
perjalanan, yang lebih mirip padang rumput itu, kami sudah dapat menyaksikan
bibir pantai dan sudut dermaga tua diantara rindangnya pepohonan.
Kala itu, beberapa diantara kami
telah bersiap menyusur jalan setapak menuju Dermaga Oli Pier sebelum matahari
menampakkan wujudnya. Berniat untuk mengabadikan momen terbitnya matahari, kami
pun sudah menapak di tepi dermaga setelah melewati rumitnya medan dalam keadaan
yang masih cukup gelap. Bersyukurlah ketika itu, cuaca sedang sangat baik,
tidak mendung sedikitpun, bahkan semilir anginnya membuat kami semakin
menikmati momen matahari terbit di pinggir dermaga.
Dermaga Oli Pier sudah ada
semenjak beroperasinya PT Timah di Desa Lalang. Konon katanya, dermaga ini
merupakan tempat singgahnya kapal-kapal besar dari tempat yang nun jauh disana.
Sehingga, jika hari ini kau melihat pondasi dermaga tua tersebut, masih tampak
kerangka bangunan yang sangat kokoh meskipun sudah berkarat. Namun, setelah
kepergian PT Timah, banyak besi-besi yang diambil oleh warga sehingga hanya
menyisakan pondasi. Kemudian, pondasi tersebut dipasang papan – papan kayu
untuk bisa menyambungkan pondasi satu dengan yang lain, sehingga warga desa
tetap bisa menikmati pantai dari ujung dermaga.
![]() |
| Jembatan kayu di Dermaga Olipier |
Papan yang tampak rapuh tersebut
membuat kami bergidik ketika hendak mencobanya. Setelah puas menikmati momen
matahari terbit, kami pun tertantang untuk sampai ke ujung dermaga tua itu
ketika menyaksikan seorang warga yang berhasil mencapai ujung untuk memancing.
Bermodalkan jiwa sok berani dan nekat, beberapa diantara kami pelan – pelan
menyusuri satu demi satu papan yang ketika kaki kami menapak lantas bergoyang. Maju
mundur, mulanya. Namun, setelah satu persatu terlewati, rasanya tidak
semengerikan yang dibayangkan.
Yaps, sampai akhirnya kami
berhasil menapak di tengah dermaga. Cukup sampai disitu saja, karna kami tidak
yakin mampu melanjutkan titian berikutnya. Sesampai ditengah dermaga, kami
memilih untuk duduk duduk sebentar menikmati semilir angin, dan silaunya
matahari yang mulai meninggi. Melayangkan pandangan ke tengah pantai, kemudian.
“Eh liat, itu lumba-lumba!”
Salah satu dari kami berteriak
takjub, diikuti sorotan mata lainnya yang langsung fokus pada titik si kawan
menunjuk. Waw, mungkin untuk pertama kalinya, dan begitu senangnya kami
menyaksikan sekawanan lumba-lumba yang timbul tenggelam di tengah pantai. Bukan
sia-sia perjuangan kami melewati papan-papan mengerikan menjejak pondasi
dermaga tua. Ada sekawanan lumba – lumba yang menyapa.
Pantai Oli Pier
Tidak puas menikmati uniknya
dermaga tua oli pier, kami beranjak menuju bibir pantai yang lokasinya tak jauh
dari dermaga. Dengan medan yang sama rumitnya, kami pun mencapai bibir pantai
Oli Pier. Jika pagi hari merupakan waktu sempurna untuk menikmati dermaga tua
oli pier, maka, sore hari-lah waktu yang paling tepat untuk bermain di tepian
pantainya.
Menjejak di pantai ini selalu
membawa suasana yang menentramkan. Berbeda dengan pantai Lalang, Pantai Oli
Pier begitu sepi ketika sore hari. Kalo bahasa kami, kayak pantai punya
sendiri, karna tidak ada lagi siapapun selain kami yang ketika sore itu bermain
disana.
Angin semilir yang membuat
dedaunan dan rumput bergesekan menari, ombak kecil yang berlomba mencapai tepi
pantai, seolah menciptakan harmoni tersendiri yang membuat kami suka sekali
menikmati sunyi-nya pantai ini.
![]() |
| Seenak itu bersantai di tepian pantai |
Di tepian kala sore, pemandangan
lain juga menyihir mata kami. Sederetan warna-warni perahu tradisional nelayan,
berjejer rapi selayaknya sedang unjuk keindahannya pada kami. Uniknya, perahu
tradisional warna-warni ini hanya bisa kami nikmati melalui mata saja. Karna di
setiap perahu sudah bertengger tulisan, bahwa perahu-perahu tersebut tidak
boleh disentuh selain oleh yang punya. Entah, ada mitos yang berkembang di
masyarakat, yang menjadi bagian dari keunikan warga Belitung timur ini.
Tidak banyak yang bisa diceritakan
mengenai Pantai Oli Pier, selain ketenangan suasananya, warna-warni perahu
tradisional nelayan dan keindahan tepian pantainya yang masih perawan. Tapi,
menghabiskan sore di pantai ini, sangat menjadi favorit kami.
Pantai Teropong
Matahari yang datang dan Pak Nelayan yang Pulang
Tak hanya senja yang tampak manis
menutup hari kamek di Desa Lalang. Namun, salah satu dari gugusan pantai yang
memanjang di desa kamek juga menjadi tempat yang menakjubkan untuk menyambut
datangnya matahari ketika pagi. Pantai Teropong, yang kalau dideskripsikan
lokasinya ada diantara pantai Nyiur Melambai dan Pantai Olipier.
Dinamakan Pantai Teropong, karena
lokasi pantai ini yang meskipun berderet dengan kawan pantai lainnya, namun ada
bukit kecil diatasnya bertengger beberapa saung. Di Saung-saung inilah kamek
berada lebih tinggi diantara tepian pantai, sehingga bisa mengedarkan pandangan
sejauh mungkin. Dari saung Pantai Teropong ini, kamek juga bisa menikmati
tepian pantai nyiur melambai dan dermaga tua olipier.
Karna letaknya yang lebih tinggi,
kami bisa dengan leluasa menyaksikan matahari terbit dari saung Pantai
Teropong. Pagi hari seperti biasanya, kami sudah menapak di Pantai Teropong,
sembari bercengkrama di saung, menunggu momen terbitnya matahari. Ada juga
diantara kami yang lebih suka mengabadikan momen, mengambil gambar, atau
sekedar tiduran mendengarkan music menikmati semburat matahari yang mulai
nampak.
![]() |
| Kapal nelayan yang sudah pulang |
Langit yang mulai menguning, pertanda
matahari sudah datang. Semburatnya yang semakin tinggi memuat kami semakin
memicingkan mata. Ada momen yang menarik ketika kami menikmati munculnya
semburat kuning matahari pagi dari pantai teropong. Mengedarkan pandangan jauh
ke tengah laut, kami bisa menyaksikan para nelayan yang hendak pulang setelah
melaut semalaman.
Ya. Semburat kuning yang
memantulkan cahayanya di tengah laut, pertanda matahari datang, dan
perahu-perahu nelayan yang bergegas pulang, menjadi perpaduan yang begitu
sempurna di pantai teropong pada pagi hari.
Pantai Mudong
Sore itu beberapa diantara kami
merencanakan untuk menengok Pantai Mudong. Tertantang menjawab rasa penasaran
kami tentang keberadaan pantai ini. Berangkatlah sore yang cerah tersebut
mengikuti penunjuk arah di Desa Lalang. Sampai ujung dusun Sekip, penunjuk arah
menuju Pantai Mudong sudah tidak ada lanjutannya lagi. Kami pun bertanya pada
warga setempat, dan ditunjukkanlah kami menuju sebuah jalan yang
dikanan-kirinya terdapat padang sejauh mata memandang.
Kaisar yang kami naiki pun melaju
membelah padang ilalang tersebut, beruntungnya jalan menuju pantai ini sudah
beraspal, meskipun tidak lebar. Sepanjang jalan ditemani angin yang semilir,
cukup jauh kami membawa Kaisar melaju. Namun, pemandangan sepanjang jalan kecil
ini begitu menyenangkan, padang ilalang, segerombolan sapi yang merumput, dan
deretan warkop-warkop kecil.
Sepanjang 7 km kurang lebih kami menyusuri
jalan yang lurus tanpa ada belokan. Masih dengan padang ilalang sejauh mata
memandang, kami pun penasaran, kemana jalan ini akan bermuara. Katanya sih ke
pantai mudong, yang kami cari. Tapi, tak kunjung sampai juga.
Hampir menyerah, rupanya sisi kiri
jalan yang kami lalui mulai menampakkan tepian pantai. Nah, sampailah kami di
Tepian pantai mudong. Namun, kami masih melanjutkan perjalanan, menyusuri
dimana muara pantai mudong. Kemudian, pemandangan sisi kiri kami sudah berganti
menjadi tepian pantai sejauh mata memandang, ada beberapa muda-mudi yang kami
temui singgah di tepian tersebut, sekedar menghabiskan sore.
Rupanya tepian pantai mudong ini,
sangat panjang. Kurang lebih 3 km kami menyusuri, baru kami mendapati sebuah
plang nama using yang sudah susah terbaca bertuliskan “Pantai China”. Muara
pantai ini sangat sepi, ada beberapa gubuk warung kopi yang berdebu, dan tidak
dihuni. Macam film horror ketika itu kami bayangkan. Didorong rasa penasaran,
kami pun masuk ke tepian pantai yang menurut plang namanya “Pantai China”,
dengan rasa penasaran “lalu, pantai mudong dimana”
Salah satu dari kami berinisiatif,
bertanya pada nelayan yang cukup jauh keberadaannya dari tepian pantai. Sejenak
ia pun kembali
“Ternyata, pantai china itu nama lain pantai mudong. Trus tepian sepanjang jalan yang kita lalui tadi, itu sudah masuk pantai mudong”
Dan kami Ber O serentak. Karna
hari sudah semakin senja, kami pun bersepakat untuk segera kembali. Disambut
semburat jingga yang menemani perjalanan kembali, menyusuri padang ilalang
sepanjang jalan kenangan. Yak, Pantai Mudong, sudah cukup menjawab rasa
penasaran kami.
Bukit Samak
Deretan Pantai Sejauh Mata Memandang
Kalau tadi sudah puas mengulas
betapa menakjubkannya maha karya Tuhan pada deretan pantai desa lalang, maka,
Bukit Samak merupakan tempat terbaik untuk menikmati semuanya. Bukit Samak adalah
salah satu objek wisata yang berada di puncak bukit kecil dusun samak, masih di
Desa Lalang. Kalo bahasa ala kita-nya, mungkin semacam gardu pandang. Karna
dari saung warna-warni yang ada di Bukit Samak, kami bisa menyaksikan keindahan
Desa Lalang lengkap dengan gugusan pantainya, dan hijau pepohonan yang
bertengger di bukit ini.
Untuk sampai ke bukit samak, kami
hanya perlu melajukan motor kurang lebih 5 menit dari posko KKN kami. Sepanjang
jalan, kami sudah bisa melihat deretan pantai dibawah sana. Oiya selain itu,
kami juga akan melewati rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati Belitung Timur,
kalau mau mampir boleh juga. Sesampainya disana, ngga hanya ada
pondokan-pondokan warna-warni tempat untuk bercengkerama dan menikmati
pemandangan. Ada juga beberapa villa kecil yang disewakan untuk wisatawan.
Spot paling asik buat menikmati
pemandangan ini adalah di ayunan yang bertengger diantara dua pondokan.
Pandangan mata kami berhenti pada garis pertemuan antara hijaunya pantai yang
berkilau karna cahaya matahari dan birunya langit yang semakin cantik dihiasi
awan putih berarak. Gradasi yang sangat sempurna.
Kilas balik Januari 2017
Catatan perjalanan yang dibuang sayang~









Tidak ada komentar:
Posting Komentar