Mentari
begitu terik ketika kala itu, kami menjejak pertama kali di Landasan Udara
Sultan Hanadjoedin. Bandara kecil yang terletak di Kabupaten Belitung, meskipun
semula kami kira tak ada bedanya dengan Kabupaten Belitung timur tempat kami
akan bermukim. Dari sana, kami dibawa melewati pemandangan hijau sepanjang
jalan kenangan, sampai satu setengah jam berlalu dan kami lelah tertidur.
Sampailah
kendaraan yang membawa kami persis, di depan sebuah danau besar yang sangat
indah dipandang.
“Nah
kita udah sampai, rumahnya disitu. Yang didepan ini namanya Kulong Minyak”
begitu kiranya pak supir menyapa kami yang masih meraba sudah dimanakah kita.
Menjejak
tanah Belitung, aih. Ini mungkin yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Bukan tentang pemandangan menakjubkan seperti banyak disuguhkan. Bukan pula
tentang indahnya desa sebagaimana pendahulu kami bercerita. Lebih dari itu.
Pemandangan
rumah-rumah kayu sederhana disekeliling danau yang disebut Kulong Minyak itu,
sejenak menyita perhatian kami. Panas menyengat yang seketika menyipitkan mata,
kami anggap sebagai salam sapa. Ya, kesan pertama yang menyenangkan bagi kami.
Terlepas
dari hiruk pikuk kota yang biasanya menjadi teman sehari-hari kami, atau asap
kendaraan yang seringkali memaksa masuk ke hidung kami, dan segala hal tentang
penatnya kota tak lagi kami jumpai di depan mata. Ya. Tanah ini membuat kami
jatuh cinta pada pandangan pertama.
Yuslih
Ihza dan Burhanuddin merupakan pasangan bupati dan wakil bupati Belitung timur.
Kesan yang berbeda, satu setengah bulan kami mengenal dan tinggal di kabupaten
tempat mereka memimpin. Akrab dan merakyat, menjadi karakter kepemimpinan Pak
Yuslih dan Pak Burhanuddin yang kami rasakan, meski sebagai pendatang.
Pak
Yuslih sebagai bupati, merupakan seorang tokoh yang sebelumnya sudah banyak
dikenal oleh masyarakat Belitung timur. Karakternya yang bijaksana, tampak
ketika dua kali kami mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan beliau seputar
permasalahan dan program kerja kami di Belitung Timur.
Pak
Burhanuddin, atau yang akrab disapa Pak Aan, merupakan wakil bupati Belitung
timur yang memulai karirnya sebagai seorang guru yang merintis sebuah SMA di
daerah kelapa kampit. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang begitu berbelit
untuk ditemui. Pak Aan selalu mempersilakan warga-warganya untuk bertamu
setelah jam pulang kerja di rumah dinas beliau. Begitupun kami, beberapa kali
berkunjung ke rumah dinas wakil bupati bahkan untuk sekedar berbincang dengan
beliau. Tak membutuhkan waktu lama untuk kami bisa berbincang akrab, karena
karakter pak Aan yang sangat merakyat.
Di
Belitung timur, kami tidak sedikitpun menemukan birokrasi yang berbelit. Mulai
dari mengurus keperluan kami di kantor daerah, hingga menemui pemimpin daerah, semua begitu dimudahkan oleh
pelayanan pemerintah daerah Belitung Timur. Apalagi, dalam beberapa kegiatan,
pejabat daerah Belitung Timur selalu ikut berpartispasi menghadiri undangan
kami. Ya, akrab dan merakyat.
Desa Lalang : Rindu yang tertambat
Selama
satu setengah bulan, kami bermukim di Desa Lalang Kecamatan Manggar. Sejak
zaman colonial Belanda, Desa Lalang merupakan tempat tinggal bagi petinggi
perusahaan timah yang telah menempati daerah tersebut sejak awal abad ke-20.
Oleh karenanya, desa lalang memiliki banyak sekali peninggalan sejarah. Di
setiap jengkal tempat di desa ini, memiliki berbagai cerita yang kerap menjadi
obrolan asik bersama warga desa.
Di
Desa Lalang pula, kami menikmati berbagai potensi yang ada, mulai dari gugus
pantai yang memanjang di bagian timur desa, kebudayaan yang juga sempat kami
pelajari. Hingga, sajian khas tanah Belitung yang kami cicipi sebagai buah
tangan dari warga yang baik hati.
Radianta
Alfitri atau yang akrab kami sapa Pak Alfi, merupakan Kepala Desa Lalang yang
telah memimpin desa sejak bulan April 2016. Selama keberjalanan program kerja
kami, Pak Alfi selalu mengerahkan semua bala bantuannya demi lancarnya program
kerja. Beliau juga dengan rutin memantau setiap program kerja yang terlaksana.
Menjadi
bagian dari desa Lalang selama satu setengah bulan, rupanya meninggalkan kesan
yang begitu mendalam. Desa asri yang terbilang tidak begitu padat penduduknya,
keramahan warga-warganya, hingga setiap jengkal tempat yang ada disana, menyisakan
rindu yang tertambat ketika kami harus kembali.
Alkisah Delapan Dusun
Ketika
pertama kali mengenal desa ini, kami cukup bertanya-tanya dengan nama delapan
dusun yang ada di Desa Lalang. Samak, Kartini, Sekip, Terang Bulan, Sawah, Ban
Mutor, Durian dan Taruna Mulya. Tapi benar, bahwa selalu ada cerita dalam
setiap jengkal tempat di Desa Lalang.
Jawaban
keheranan kami, terjawab saat duduk berbincang bersama bapak-bapak di Warung
Kopi. Oiya, begalor jika warga sebut
kegiatan kami. Berbicang-bincang, bertukar cerita satu dengan yang lain. Bapak,
ibu hingga muda mudi di desa Lalang sangat suka begalor dengan siapapun dan membahas apapun. Ternyata, nama-nama
dusun yang unik tersebut punya kisah yang berbeda. Kami pun dengan khusyuk
menyimak bapak-bapak yang dengan semangat menceritakannya pada kami.
Desa
Lalang memiliki wilayah cakupan yang sangat luas, dengan delapan dusun yang ada
didalamnya. Sebagaimana cerita warga desa lalang, nama-nama dusun yang unik di
daerah ini memiliki sebabnya mengapa dinamai demikian.
Pertama,
bernama dusun Samak yang terletak di Desa Lalang Atas. Semula, dusun ini
memiliki penduduk yang sangat jarang dengan rumah yang dikelilingi oleh tumbuhan
samak. Karna tumbuhan samak yang masih mendominasi daerah ini, makan
dinamakanlah Dusun Samak. Kedua, bernama Dusun Terang Bulan yang merupakan
dusun tempat kami tinggal. Katanya, ketika bulan purnama, dusun inilah yang
paling terang dan bulan purnamanya paling tampak. Oleh karena itu, dinamakan
Dusun Terang Bulan.
| Salah satu bangunan tua yang menjadi sekolah |
Ketiga,
bernama Dusun Sawah. Dahulu, daerah tersebut berada di dataran rendah dengan
banyak semak-semak. Ketika musim hujan, semak di daerah itu menggenang, seperti
sawah. Oleh karenanya dinamakan Dusun Sawah. Keempat, bernama Dusun Ban Mutor.
Alkisah, dimanakan ban mutor karena pada zaman belanda dahulu, daerah tersebut
sering digunakan sebagai tempat pembuangan ban-ban bekas. Maka dinamakanlah
Dusun Ban Mutor.
Begitu
pula empat dusun lainnya, Kartini, Sekip, Durian dan Taruna Mulya yang memiliki
ceritanya sendiri.
| gotong royong membuat ayunan di Pantai Nyiur Melambai |
Selayaknya Keluarga Kamek
Selama
tinggal di Desa Lalang, kami memiliki 4 pembimbing yang ditugaskan Pak Alfi
untuk menemani keberjalanan program kami. Pak Masnur, Pak Iskandar, Kak Iin,
Pak Uno dan Pak Sabi, mereka sudah selayaknya keluarga kami. Tidak ada alasan
yang membuat kami tidak betah bermukim di Desa Lalang, segala halnya
meninggalkan kesan yang mendalam. Mulai dari Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua
RT, Pak Ruslan Pemilik Warung Kopi hingga nelayan yang sering kami jumpai,
membekaskan kenangan selayaknya keluarga.
Tak
hanya terbatas pada program kerja, namun interaksi kami bersama warga desa
dalam keseharian semakin menjadi perekat dalam bermasyarakat. Mulai dari kerja
bakti, obrolan malam di warung kopi, ikut melaut bersama tetangga, mencari ikan
atau mukat, dan membantu posyandu. Ya. Warga desa lalang sudah selayaknya
keluarga kamek.
| Hari terakhir :( |
Kilas balik Januari 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar