Senin, 15 Oktober 2018

Belitung Timur, tentang Cinta pada Pandangan Pertama

Pulau Belitung dari atas menara

Mentari begitu terik ketika kala itu, kami menjejak pertama kali di Landasan Udara Sultan Hanadjoedin. Bandara kecil yang terletak di Kabupaten Belitung, meskipun semula kami kira tak ada bedanya dengan Kabupaten Belitung timur tempat kami akan bermukim. Dari sana, kami dibawa melewati pemandangan hijau sepanjang jalan kenangan, sampai satu setengah jam berlalu dan kami lelah tertidur.
Sampailah kendaraan yang membawa kami persis, di depan sebuah danau besar yang sangat indah dipandang.
“Nah kita udah sampai, rumahnya disitu. Yang didepan ini namanya Kulong Minyak” begitu kiranya pak supir menyapa kami yang masih meraba sudah dimanakah kita.
Menjejak tanah Belitung, aih. Ini mungkin yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Bukan tentang pemandangan menakjubkan seperti banyak disuguhkan. Bukan pula tentang indahnya desa sebagaimana pendahulu kami bercerita. Lebih dari itu.
Pemandangan rumah-rumah kayu sederhana disekeliling danau yang disebut Kulong Minyak itu, sejenak menyita perhatian kami. Panas menyengat yang seketika menyipitkan mata, kami anggap sebagai salam sapa. Ya, kesan pertama yang menyenangkan bagi kami.
Terlepas dari hiruk pikuk kota yang biasanya menjadi teman sehari-hari kami, atau asap kendaraan yang seringkali memaksa masuk ke hidung kami, dan segala hal tentang penatnya kota tak lagi kami jumpai di depan mata. Ya. Tanah ini membuat kami jatuh cinta pada pandangan pertama.




Bersama Pak Aan, wakil Bupati Belitung Timur 
Akrab dan Merakyat

Yuslih Ihza dan Burhanuddin merupakan pasangan bupati dan wakil bupati Belitung timur. Kesan yang berbeda, satu setengah bulan kami mengenal dan tinggal di kabupaten tempat mereka memimpin. Akrab dan merakyat, menjadi karakter kepemimpinan Pak Yuslih dan Pak Burhanuddin yang kami rasakan, meski sebagai pendatang.
Pak Yuslih sebagai bupati, merupakan seorang tokoh yang sebelumnya sudah banyak dikenal oleh masyarakat Belitung timur. Karakternya yang bijaksana, tampak ketika dua kali kami mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan beliau seputar permasalahan dan program kerja kami di Belitung Timur.
Pak Burhanuddin, atau yang akrab disapa Pak Aan, merupakan wakil bupati Belitung timur yang memulai karirnya sebagai seorang guru yang merintis sebuah SMA di daerah kelapa kampit. Tidak seperti pejabat pada umumnya yang begitu berbelit untuk ditemui. Pak Aan selalu mempersilakan warga-warganya untuk bertamu setelah jam pulang kerja di rumah dinas beliau. Begitupun kami, beberapa kali berkunjung ke rumah dinas wakil bupati bahkan untuk sekedar berbincang dengan beliau. Tak membutuhkan waktu lama untuk kami bisa berbincang akrab, karena karakter pak Aan yang sangat merakyat.
Di Belitung timur, kami tidak sedikitpun menemukan birokrasi yang berbelit. Mulai dari mengurus keperluan kami di kantor daerah, hingga menemui  pemimpin daerah, semua begitu dimudahkan oleh pelayanan pemerintah daerah Belitung Timur. Apalagi, dalam beberapa kegiatan, pejabat daerah Belitung Timur selalu ikut berpartispasi menghadiri undangan kami. Ya, akrab dan merakyat.

Kaisar yang penuh kenangan

Desa Lalang : Rindu yang tertambat

Selama satu setengah bulan, kami bermukim di Desa Lalang Kecamatan Manggar. Sejak zaman colonial Belanda, Desa Lalang merupakan tempat tinggal bagi petinggi perusahaan timah yang telah menempati daerah tersebut sejak awal abad ke-20. Oleh karenanya, desa lalang memiliki banyak sekali peninggalan sejarah. Di setiap jengkal tempat di desa ini, memiliki berbagai cerita yang kerap menjadi obrolan asik bersama warga desa.
Di Desa Lalang pula, kami menikmati berbagai potensi yang ada, mulai dari gugus pantai yang memanjang di bagian timur desa, kebudayaan yang juga sempat kami pelajari. Hingga, sajian khas tanah Belitung yang kami cicipi sebagai buah tangan dari warga yang baik hati.
Radianta Alfitri atau yang akrab kami sapa Pak Alfi, merupakan Kepala Desa Lalang yang telah memimpin desa sejak bulan April 2016. Selama keberjalanan program kerja kami, Pak Alfi selalu mengerahkan semua bala bantuannya demi lancarnya program kerja. Beliau juga dengan rutin memantau setiap program kerja yang terlaksana.
Menjadi bagian dari desa Lalang selama satu setengah bulan, rupanya meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Desa asri yang terbilang tidak begitu padat penduduknya, keramahan warga-warganya, hingga setiap jengkal tempat yang ada disana, menyisakan rindu yang tertambat ketika kami harus kembali.

Begalor dengan nelayan di warkop setelah ikut melaut

Alkisah Delapan Dusun

Ketika pertama kali mengenal desa ini, kami cukup bertanya-tanya dengan nama delapan dusun yang ada di Desa Lalang. Samak, Kartini, Sekip, Terang Bulan, Sawah, Ban Mutor, Durian dan Taruna Mulya. Tapi benar, bahwa selalu ada cerita dalam setiap jengkal tempat di Desa Lalang.
Jawaban keheranan kami, terjawab saat duduk berbincang bersama bapak-bapak di Warung Kopi. Oiya, begalor jika warga sebut kegiatan kami. Berbicang-bincang, bertukar cerita satu dengan yang lain. Bapak, ibu hingga muda mudi di desa Lalang sangat suka begalor dengan siapapun dan membahas apapun. Ternyata, nama-nama dusun yang unik tersebut punya kisah yang berbeda. Kami pun dengan khusyuk menyimak bapak-bapak yang dengan semangat menceritakannya pada kami.
Desa Lalang memiliki wilayah cakupan yang sangat luas, dengan delapan dusun yang ada didalamnya. Sebagaimana cerita warga desa lalang, nama-nama dusun yang unik di daerah ini memiliki sebabnya mengapa dinamai demikian.
Pertama, bernama dusun Samak yang terletak di Desa Lalang Atas. Semula, dusun ini memiliki penduduk yang sangat jarang dengan rumah yang dikelilingi oleh tumbuhan samak. Karna tumbuhan samak yang masih mendominasi daerah ini, makan dinamakanlah Dusun Samak. Kedua, bernama Dusun Terang Bulan yang merupakan dusun tempat kami tinggal. Katanya, ketika bulan purnama, dusun inilah yang paling terang dan bulan purnamanya paling tampak. Oleh karena itu, dinamakan Dusun Terang Bulan.
Salah satu bangunan tua yang menjadi sekolah

Ketiga, bernama Dusun Sawah. Dahulu, daerah tersebut berada di dataran rendah dengan banyak semak-semak. Ketika musim hujan, semak di daerah itu menggenang, seperti sawah. Oleh karenanya dinamakan Dusun Sawah. Keempat, bernama Dusun Ban Mutor. Alkisah, dimanakan ban mutor karena pada zaman belanda dahulu, daerah tersebut sering digunakan sebagai tempat pembuangan ban-ban bekas. Maka dinamakanlah Dusun Ban Mutor.
Begitu pula empat dusun lainnya, Kartini, Sekip, Durian dan Taruna Mulya yang memiliki ceritanya sendiri.


gotong royong membuat ayunan di Pantai Nyiur Melambai


Selayaknya Keluarga Kamek

Selama tinggal di Desa Lalang, kami memiliki 4 pembimbing yang ditugaskan Pak Alfi untuk menemani keberjalanan program kami. Pak Masnur, Pak Iskandar, Kak Iin, Pak Uno dan Pak Sabi, mereka sudah selayaknya keluarga kami. Tidak ada alasan yang membuat kami tidak betah bermukim di Desa Lalang, segala halnya meninggalkan kesan yang mendalam. Mulai dari Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua RT, Pak Ruslan Pemilik Warung Kopi hingga nelayan yang sering kami jumpai, membekaskan kenangan selayaknya keluarga.
Tak hanya terbatas pada program kerja, namun interaksi kami bersama warga desa dalam keseharian semakin menjadi perekat dalam bermasyarakat. Mulai dari kerja bakti, obrolan malam di warung kopi, ikut melaut bersama tetangga, mencari ikan atau mukat, dan membantu posyandu. Ya. Warga desa lalang sudah selayaknya keluarga kamek.


Hari terakhir :(




Kilas balik Januari 2017
Cerita perjalanan yang dibuang sayang~

Video Pariwisata Desa Lalang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar