| Dokumentasi Kreavi/Febi |
Sebenernya, udah lama
banget saya ingin mengulas kesan tentang permainan papan, atau yang lebih akrab
didengar dengan istilah Board Game
ini, dari kacamata pemula. Pada sebuah kesempatan, saya menjadi salah satu
pendengar yang takjub dengan niat baik Hompimpa Games yang dituturkan mas Erwin
pada bincang-bincang di Dolan Dolen Kreavi #36. Pengetahuan saya yang
masih sangat minim mengenai board game,
selain Monopoli atau Uno, membuat sesi sharing tentang permainan papan yang
menjadi produk asli Indonesia ini, begitu menarik minat.
Nah teman-teman yang
juga masih asing, biar saya kenalkan dulu apa itu Board Game.
Board game adalah jenis permainan yang
menggunakan papan sebagai alat permainannya, dan menggunakan dadu, koin, pion
atau kartu sebagai alat bantu untuk menjalankan misi permainan.
Kalo temen-temen tau
Monopoli atau Uno, permainan tersebut juga masuk kategori board game kok. Hanya saja, kalau kita mau lebih kepo, ada banyak
banget board game yang lebih edukatif, asyik dan mengasah otak karya kreator
Indonesia.
Misalnya, permainan
Orang Rimba The Forest Keeper yang
menceritakan tentang Suku Anak Dalam di Jambi, penduduk asli yang menempati
kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas yang hidup berdampingan dengan alam.
Sampai suatu hari ada orang-orang yang ingin mengeksploitasi kekayaan alamnya,
dan pemain sebagai orang rimba diberikan misi untuk menjaga Sumber Daya Alam
yang terancam dari pembalak liar. Atau permainan The Art of Batik, yang mengenalkan pemain dengan bagaimana proses
pembuatan batik. Disitu pemain diberikan misi untuk menuntaskan langkah-langkah
membuat batik, dari memilih kain, mencanting hingga menjemur.
Selama sesi break, Hompimpa Games menyuguhkan beberapa board game di meja untuk dicoba pengunjung. Jadilah sambil
mencuri-curi waktu evaluasi panitia, saya dan teman-teman menjajal beberapa permainan papan karya Hompimpa Games ini.
![]() |
| Kartu Masalah dan Solusi |
Permainan pertama yang kita coba, yaitu Senggal Senggol Gg Damai. Bermodal sok tau, kita mencoba mengaplikasikan rules permainan ini. Karna cukup rumit dan tidak didampingi oleh coach, kita tidak bisa menuntaskan permainan. Namun, sepanjang memahami aturan mainnya, sumpah demi apapun, saya takjub dengan ide kreator-nya.
Permainan ini mengenalkan
kita dengan pentingnya sikap toleransi dalam hidup bertetangga. Kita akan
disuguhkan replika perumahan warga di Gg Damai, dengan kartu masalah, kartu
solusi dan kartu bantuan untuk menjalankan permainan. Dalam permainannya, akan
ada beberapa masalah bertetangga yang muncul seperti "tetangga menyetel musik keras-keras" "tetangga tidak
bisa menjaga kebersihan" dan lain sebagainya. Nah tugas kita sebagai
pemain bernama, Ucup, Mbak Sri, Ferdinand dan Poltak adalah, bekerja sama untuk
menemukan solusi dari permasalahan bertetangga di Gg Damai ini.
Acaraki, The Java Herbalist adalah permainan kedua yang kita mainkan. Setelah
coach dari Hompimpa Games menjelaskan aturan mainnya, kita pun mulai
bereksperimen dengan berbagai kartu jamu-jamu an yang tersedia. Sukaaa banget.
Permainan ini tentang Acaraki atau tabib yang berkeliling desa – desa di
Majapahit untuk menyembuhkan penyakit warga. Pemain sebagai tabib akan
diberikan beberapa kartu berupa bahan ramuan, untuk menyembuhkan penyakit.
Ketika berhasil menyembuhkan penyakit, pemain akan diberikan imbalan berupa
koin emas atau perak. Menariknya, ada saat dimana pemain diberikan kartu Ikhlas ketika berhasil menyembuhkan
penyakit. Hal ini mengajarkan pada kita, bahwa tidak semua yang kita lakukan perlu
diukur dengan materi. Mengangkat tema ini, Hompimpa Games ingin memperkenalkan
bahan ramuan jamu asli Indonesia seperti kunyit, kencur, jahe, temulawak dan
lain sebagainya yang berfungsi untuk menyembuhkan penyakit.
Mengenal beberapa
permainan papan yang sedikit saya ulas diatas, dengan senang hati saya
mengamini jika melalui board game, Kreator Indonesia cukup berhasil mengenalkan
konten – konten positif dan local wisdom
Indonesia kepada khalayak luas. Dan yang saya salut, bahkan melalui permainan
papan yang mengasyikkan tadi, pemain dapat belajar tentang banyak value kehidupan, seperti menjaga
kelestarian alam pada permainan Orang Rimba, toleransi dan gotong royong pada
permainan Senggal Senggol Gg Damai, mengenal batik pada permaian The Art of
Batik, atau meramu jamu, tolong menolong dan keikhlasan pada permainan Acaraki.
Dan yang saya sebutkan, hanya sebagian kecil saja dari karya board game Kreator
Indonesia yang masih banyak lagi.
Selama bermain
boardgame, saya dan pemain lainnya mulanya tidak saling kenal. Asal duduk dan
tertarik mencoba, kemudian coach dari Hompimpa Games menjelaskan aturan main.
Nggak sampe seperempat jam bermain, kami pun sudah asik bercanda dan saling
tidak mau kalah. Sok akrab padahal tau nama aja enggak.
Diluar dari ulasan
tentang konten permainan, kesan menarik yang saya dapatkan ketika terlibat
dalam permainan papan adalah, interaksi. Sederhana memang, tapi sadar atau
engga interaksi inilah yang pelan-pelan mulai tidak ditemukan ketika kita
sedang bermain. Berbagai jenis permainan papan ditransformasikan menjadi
aplikasi yang ringkas dibawa kemana-mana dengan gawai. Dimainkan kapanpun,
dimanapun, dan dengan lawan main yang tidak terbatas ruang. Tentu ada banyak
hal positif dengan permainan permainan pada gawai tersebut. Namun, melihat
sudut pandang lain, hal tersebut justru mempersempit ruang interaksi offline kita dengan lingkungan. Hal baik
yang sangat saya dapatkan dari bermain, permainan papan ini membuka banyak
ruang-ruang interaksi dengan kawan baru, atau membangun keakraban dengan kawan
– kawan lama.
“Masih banyak yang lebih asyik dan muter otak,
main aja ke Board Game Library”
Sebuah tawaran yang
mengakhiri sesi bermain kala itu di De Tjolomadoe.
Surakarta, 12 Mei 2018


Tidak ada komentar:
Posting Komentar