Rabu, 29 Agustus 2018

Board Game : Menengok Keragaman Indonesia dari Permainan Papan


Dokumentasi Kreavi/Febi

"Kita ingin mengenalkan kekayaan Indonesia dengan konten-konten positif dan local wisdom melalui board game di kancah internasional" ­­(Erwin Skripsiadi)

Sebenernya, udah lama banget saya ingin mengulas kesan tentang permainan papan, atau yang lebih akrab didengar dengan istilah Board Game ini, dari kacamata pemula. Pada sebuah kesempatan, saya menjadi salah satu pendengar yang takjub dengan niat baik Hompimpa Games yang dituturkan mas Erwin pada bincang-bincang di Dolan Dolen Kreavi #36. Pengetahuan saya yang masih sangat minim mengenai board game, selain Monopoli atau Uno, membuat sesi sharing tentang permainan papan yang menjadi produk asli Indonesia ini, begitu menarik minat.


Nah teman-teman yang juga masih asing, biar saya kenalkan dulu apa itu Board Game.

Board game adalah jenis permainan yang menggunakan papan sebagai alat permainannya, dan menggunakan dadu, koin, pion atau kartu sebagai alat bantu untuk menjalankan misi permainan.

Kalo temen-temen tau Monopoli atau Uno, permainan tersebut juga masuk kategori board game kok. Hanya saja, kalau kita mau lebih kepo, ada banyak banget board game yang lebih edukatif, asyik dan mengasah otak karya kreator Indonesia.
Dokumentasi Kreavi/Febi

Misalnya, permainan Orang Rimba The Forest Keeper yang menceritakan tentang Suku Anak Dalam di Jambi, penduduk asli yang menempati kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas yang hidup berdampingan dengan alam. Sampai suatu hari ada orang-orang yang ingin mengeksploitasi kekayaan alamnya, dan pemain sebagai orang rimba diberikan misi untuk menjaga Sumber Daya Alam yang terancam dari pembalak liar. Atau permainan The Art of Batik, yang mengenalkan pemain dengan bagaimana proses pembuatan batik. Disitu pemain diberikan misi untuk menuntaskan langkah-langkah membuat batik, dari memilih kain, mencanting hingga menjemur.

Selama sesi break, Hompimpa Games menyuguhkan beberapa board game di meja untuk dicoba pengunjung. Jadilah sambil mencuri-curi waktu evaluasi panitia, saya dan teman-teman menjajal beberapa permainan papan karya Hompimpa Games ini.

Kartu Masalah dan Solusi

Permainan pertama yang kita coba, yaitu Senggal Senggol Gg Damai. Bermodal sok tau, kita mencoba mengaplikasikan rules permainan ini. Karna cukup rumit dan tidak didampingi oleh coach, kita tidak bisa menuntaskan permainan. Namun, sepanjang memahami aturan mainnya, sumpah demi apapun, saya takjub dengan ide kreator-nya.

Permainan ini mengenalkan kita dengan pentingnya sikap toleransi dalam hidup bertetangga. Kita akan disuguhkan replika perumahan warga di Gg Damai, dengan kartu masalah, kartu solusi dan kartu bantuan untuk menjalankan permainan. Dalam permainannya, akan ada beberapa masalah bertetangga yang muncul seperti "tetangga menyetel musik keras-keras" "tetangga tidak bisa menjaga kebersihan" dan lain sebagainya. Nah tugas kita sebagai pemain bernama, Ucup, Mbak Sri, Ferdinand dan Poltak adalah, bekerja sama untuk menemukan solusi dari permasalahan bertetangga di Gg Damai ini. 

Saya sebagai tabib Aruna, pas main Acaraki
Acaraki, The Java Herbalist adalah permainan kedua yang kita mainkan. Setelah coach dari Hompimpa Games menjelaskan aturan mainnya, kita pun mulai bereksperimen dengan berbagai kartu jamu-jamu an yang tersedia. Sukaaa banget. Permainan ini tentang Acaraki atau tabib yang berkeliling desa – desa di Majapahit untuk menyembuhkan penyakit warga. Pemain sebagai tabib akan diberikan beberapa kartu berupa bahan ramuan, untuk menyembuhkan penyakit. Ketika berhasil menyembuhkan penyakit, pemain akan diberikan imbalan berupa koin emas atau perak. Menariknya, ada saat dimana pemain diberikan kartu Ikhlas ketika berhasil menyembuhkan penyakit. Hal ini mengajarkan pada kita, bahwa tidak semua yang kita lakukan perlu diukur dengan materi. Mengangkat tema ini, Hompimpa Games ingin memperkenalkan bahan ramuan jamu asli Indonesia seperti kunyit, kencur, jahe, temulawak dan lain sebagainya yang berfungsi untuk menyembuhkan penyakit.

Mengenal beberapa permainan papan yang sedikit saya ulas diatas, dengan senang hati saya mengamini jika melalui board game, Kreator Indonesia cukup berhasil mengenalkan konten – konten positif dan local wisdom Indonesia kepada khalayak luas. Dan yang saya salut, bahkan melalui permainan papan yang mengasyikkan tadi, pemain dapat belajar tentang banyak value kehidupan, seperti menjaga kelestarian alam pada permainan Orang Rimba, toleransi dan gotong royong pada permainan Senggal Senggol Gg Damai, mengenal batik pada permaian The Art of Batik, atau meramu jamu, tolong menolong dan keikhlasan pada permainan Acaraki. Dan yang saya sebutkan, hanya sebagian kecil saja dari karya board game Kreator Indonesia yang masih banyak lagi.

Dokumentasi Kreavi/Febi
Selama bermain boardgame, saya dan pemain lainnya mulanya tidak saling kenal. Asal duduk dan tertarik mencoba, kemudian coach dari Hompimpa Games menjelaskan aturan main. Nggak sampe seperempat jam bermain, kami pun sudah asik bercanda dan saling tidak mau kalah. Sok akrab padahal tau nama aja enggak.

Diluar dari ulasan tentang konten permainan, kesan menarik yang saya dapatkan ketika terlibat dalam permainan papan adalah, interaksi. Sederhana memang, tapi sadar atau engga interaksi inilah yang pelan-pelan mulai tidak ditemukan ketika kita sedang bermain. Berbagai jenis permainan papan ditransformasikan menjadi aplikasi yang ringkas dibawa kemana-mana dengan gawai. Dimainkan kapanpun, dimanapun, dan dengan lawan main yang tidak terbatas ruang. Tentu ada banyak hal positif dengan permainan permainan pada gawai tersebut. Namun, melihat sudut pandang lain, hal tersebut justru mempersempit ruang interaksi offline kita dengan lingkungan. Hal baik yang sangat saya dapatkan dari bermain, permainan papan ini membuka banyak ruang-ruang interaksi dengan kawan baru, atau membangun keakraban dengan kawan – kawan lama.

“Masih banyak yang lebih asyik dan muter otak, main aja ke Board Game Library”

Sebuah tawaran yang mengakhiri sesi bermain kala itu di De Tjolomadoe.


Surakarta, 12 Mei 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar