Selasa, 26 Juli 2016

Menyapa Generasi Z




Generasi Z


"Generasi yang lahir pada tahun 1995 – 2000an. Generasi Z sering disebut juga sebagai iGeneration atau Generasi Net, oleh karena zaman ketika mereka lahir merupakan masa dimana teknologi media digital sedang berkembang sangat pesat sehingga pengaruh teknologi sangat dekat dengan lingkungan mereka."


Tau kan generasi Z ? bisa jadi saya, kamu, atau siapapun diantara kita termasuk dalam orang-orang yang dikategorikan sebagai generasi Z. Ya, Generasi yang melek dengan teknologi. Omong-omong tentang Generasi Z, saya ingin berbagi cerita beberapa hari yang lalu ketika mendapat kesempatan menyapa Generasi Z di SMP 255 Jakarta. Jangan bayangkan saya dan mereka beda setaun dua taun ya, karna diantara kita sangat jauh rentang usianya. Kalo sekarang saya 21 tahun, mereka masih 12-13 tahun, and that’s the real millennium generation!

Masih merupakan salah satu cerita magang saya di YPMA (Yayasan Pengembangan Media Anak), malam itu ketika sedang menyelonjorkan kaki akibat pegel-pegel hasil adaptasi rute magang Bekasi-Jakarta setiap hari, tiba-tiba muncul satu notifikasi email di layar ponsel.




Oh, rupanya Pak Gun. Beliau merupakan ketua yayasan dari tempat saya magang, sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi UI. Membaca notifikasi tersebut, hati langsung bersorak dan ngga jadi pegel-pegelnya. Sekejap sudah memencet send di layar ponsel, mengiyakan perintah bos. Yes, jalan-jalan!

Esoknya, seperti yang dijanjikan. Jam 8 tepat, kami berlima berangkat menuju SMP 255 Jakarta. Sesampai disana, setelah bercakap sebentar dengan tim guru yang mengurus masa orientasi siswa, kami dipersilakan untuk mempersiapkan materi di Ruang Multimedia. Obrolan singkat dengan Pak Gun, bahwa siswa-siswi di SMP ini memiliki latar belakang keluarga menengah keatas, jadi kalau kita amati, konsumsi mereka terhadap teknologi disekitarnya sangat dekat, mulai dari gadget, games, dan semua yang serba multimedia.

Tak lama berselang setelah bahan materi dan kuesioner selesai dipersiapkan, segerombolan anak-anak berseragam merah-putih memasuki ruangan. Ya, merah putih karena mereka masih dalam masa orientasi, jadi yang tampak dihadapan saya ketika itu wajah-wajah polos anak SD yang beranjak SMP. Tanpa diminta, mereka justru berebut duduk di kursi depan. Hal yang jarang sekali saya lihat, bahkan di kalangan mahasiswa seperti saya.

Sembari mengondisikan, saya, devi dan mba Iyay mengajak mereka untuk Ice Breaking, tentunya dengan iming iming cokelat supaya makin semangat. Setelah diinstruksikan oleh Pak Gun, kami pun menyudahi santapan pembuka yang disuguhkan untuk adik-adik. Mulailah Pak Gun menyampaikan materi nya tentang apa itu literasi media, apa pentingnya literasi media, dan obrolan-obrolan santai yang dengan antusias ditanggapi oleh anak-anak kelas 7 yang masih dalam masa orientasi tersebut.
Tidak sulit buat mereka mengerti apa maksud dari materi yang disampaikan, seperti pertanyaan Pak Gun yang ditanggapi dengan Percaya Diri oleh beberapa siswa, “jadi literasi media itu maksudnya gimana kalo buat adik-adik?”

“Kalo saya nonton TV harus liat dulu, sesuai atau engga buat diliat yang umurnya kayak saya”

“Pinter milih tontonan!”

“Ngajak mamah buat ikutan nonton, biar diawasin”

Kurang lebih seperti itu saut-sautan mereka. Sementara, materi tentang Literasi Media diakhiri dengan tantangan untuk menilai adegan negative dan ngga layak ditiru dari beberapa video kartun dan iklan anak yang ditayangkan Pak Gun. Adegan negative yang cukup implisit itu rupanya dapat dengan lantang ditebak oleh mereka, seperti adegan kekerasan di kartun Tom and Jerry, atau adegan mesra di kartun Popeye. Dari pertemuan tersebut, kami menyimpulkan bahwa sebenarnya pemahaman literasi media siswa-siswi SMP 255 Jakarta sudah sangat baik. Bahkan di Kuesioner yang mereka isi diawal perjumpaan tadi, kami mengkategorikan konsumsi mereka terhadap media digital dan online sangat tinggi, seperti bacaan, music dan game online, social media untuk berkomunikasi, dan lain sebagainya.

Terlebih hal tersebut diimbangi dengan pengetahuan terhadap tayangan yang positif dan negative menurut mereka. Dalam kuesioner yang setelah berkunjung, langsung kita rekap tersebut, mereka menilai tayangan-tayangan seperti On The Spot, Laptop si Unyil, Kartun di beberapa layar TV Kabel, dan Berita merupakan tontonan positif yang  mengedukasi. Sementara, banyak dari mereka sepakat bahwa sinetron seperti Anak Jalanan, Mermaid in Love, tontonan Bollywood, dan banyak lagi merupakan tayangan yang tidak ada nilai edukasinya sehingga malah merusak karakter anak-anak. Hal ini diungkapkan mereka dengan bahasa-bahasanya sendiri, yang menyertakan alasan di kuesioner yang mereka isi. Selain itu, poin tambahan lagi bahwa selama mereka mengonsumsi media, orangtua dianggap sangat berperan dalam mengontrolnya. Wah, menyenangkan bukan?

Terbersit beberapa asumsi dalam pikiran saya. Disini merupakan cerita tentang sekelompok anak-anak Generasi Z yang sangat mendukung kondisinya untuk mengenal teknologi media, menggunakan teknologi media, belajar dengan teknologi media, dengan segala fasilitas yang ada. Didukung pula oleh kedua orangtuanya yang juga tak sedikit memiliki pengetahuan tentang Literasi Media, sehingga bisa mengontrol apa yang dikonsumsi anak-anaknya. Ya, karena tak susah mewujudkan itu untuk mereka.

Namun, bagaimana dengan Kelompok Generasi Z yang lain? Anak-anak yang hanya bisa menikmati TV sehari-harinya, itupun berebut dengan ibunya yang tak mau ketinggalan menonton tayangan Bollywood kesayangannya, bapaknya yang juga ingin menonton pertandingan tinju, atau kakaknya yang juga tak mau mengalah menonton serial remaja favoritnya. Sehingga, membuat mereka akhirnya mengalah dan ikut menikmati juga. Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab atas perilsaya mereka yang sok dewasa di usianya? Anak-anak yang tak kenal Gadget untuk berkomunikasi dan mencari informasi, mereka hanya mengenal warnet yang mungkin hanya seminggu sekali mereka bisa bertandang, membuka Facebook atau sekedar mencari-cari gambar tokoh idolanya. Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab mengawasi?  Anak-anak yang hanya bisa memainkan games di Rental PS dekat rumahnya, karena bahkan untuk menyolokkan kabel PS saja, listrik dirumahnya tidak kuat. Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab kalau kalau games yang mereka mainkan, mengajarkan mereka berkelahi, berjudi atau yang lebih parah, berperilsaya asusila?

Sebenarnya, inilah PR saya dan teman-teman yang hari ini mengamini bahwa media sangat dekat dengan masyarakat, untuk mengenalkan Literasi Media dalam memanfaatkan teknologi didekatnya. Terutama, buat masyarakat yang tidak memiliki akses cukup untuk mengetahui bagaimana seharusnya memanfaatkan media. Karena, kalau kata salah satu senior saya “media bukan hanya sangat dekat dengan anak-anak. Tetapi, media hari ini adalah masa depan anak-anak” Nah lho. Jadi, penting bukan Literasi Media?


Bekasi, 24 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar