"Generasi yang
lahir pada tahun 1995 – 2000an. Generasi Z sering disebut juga sebagai
iGeneration atau Generasi Net, oleh karena zaman ketika mereka lahir merupakan
masa dimana teknologi media digital sedang berkembang sangat pesat sehingga
pengaruh teknologi sangat dekat dengan lingkungan mereka."
Tau kan generasi Z ? bisa jadi saya, kamu, atau siapapun
diantara kita termasuk dalam orang-orang yang dikategorikan sebagai generasi Z.
Ya, Generasi yang melek dengan teknologi. Omong-omong tentang Generasi Z, saya
ingin berbagi cerita beberapa hari yang lalu ketika mendapat kesempatan menyapa
Generasi Z di SMP 255 Jakarta. Jangan bayangkan saya dan mereka beda setaun dua
taun ya, karna diantara kita sangat jauh rentang usianya. Kalo sekarang saya 21
tahun, mereka masih 12-13 tahun, and
that’s the real millennium generation!
Masih merupakan salah satu cerita magang saya di YPMA
(Yayasan Pengembangan Media Anak), malam itu ketika sedang menyelonjorkan kaki
akibat pegel-pegel hasil adaptasi rute magang Bekasi-Jakarta setiap hari,
tiba-tiba muncul satu notifikasi email di layar ponsel.
Oh, rupanya Pak Gun. Beliau merupakan ketua yayasan dari
tempat saya magang, sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi UI. Membaca notifikasi
tersebut, hati langsung bersorak dan ngga jadi pegel-pegelnya. Sekejap sudah
memencet send di layar ponsel, mengiyakan perintah bos. Yes, jalan-jalan!
Esoknya, seperti yang dijanjikan. Jam 8 tepat, kami berlima
berangkat menuju SMP 255 Jakarta. Sesampai disana, setelah bercakap sebentar
dengan tim guru yang mengurus masa orientasi siswa, kami dipersilakan untuk
mempersiapkan materi di Ruang Multimedia. Obrolan singkat dengan Pak Gun, bahwa
siswa-siswi di SMP ini memiliki latar belakang keluarga menengah keatas, jadi
kalau kita amati, konsumsi mereka terhadap teknologi disekitarnya sangat dekat,
mulai dari gadget, games, dan semua yang serba multimedia.
Tak lama berselang setelah bahan materi dan kuesioner
selesai dipersiapkan, segerombolan anak-anak berseragam merah-putih memasuki
ruangan. Ya, merah putih karena mereka masih dalam masa orientasi, jadi yang
tampak dihadapan saya ketika itu wajah-wajah polos anak SD yang beranjak SMP.
Tanpa diminta, mereka justru berebut duduk di kursi depan. Hal yang jarang
sekali saya lihat, bahkan di kalangan mahasiswa seperti saya.
Sembari mengondisikan, saya, devi dan mba Iyay mengajak
mereka untuk Ice Breaking, tentunya
dengan iming iming cokelat supaya makin semangat. Setelah diinstruksikan oleh
Pak Gun, kami pun menyudahi santapan pembuka yang disuguhkan untuk adik-adik.
Mulailah Pak Gun menyampaikan materi nya tentang apa itu literasi media, apa
pentingnya literasi media, dan obrolan-obrolan santai yang dengan antusias
ditanggapi oleh anak-anak kelas 7 yang masih dalam masa orientasi tersebut.
Tidak sulit buat mereka mengerti apa maksud dari materi yang
disampaikan, seperti pertanyaan Pak Gun yang ditanggapi dengan Percaya Diri
oleh beberapa siswa, “jadi literasi media itu maksudnya gimana kalo buat
adik-adik?”
“Kalo saya nonton TV harus liat dulu, sesuai atau engga buat
diliat yang umurnya kayak saya”
“Pinter milih tontonan!”
“Ngajak mamah buat ikutan nonton, biar diawasin”
Kurang lebih seperti itu saut-sautan mereka. Sementara,
materi tentang Literasi Media diakhiri dengan tantangan untuk menilai adegan
negative dan ngga layak ditiru dari beberapa video kartun dan iklan anak yang
ditayangkan Pak Gun. Adegan negative yang cukup implisit itu rupanya dapat
dengan lantang ditebak oleh mereka, seperti adegan kekerasan di kartun Tom and
Jerry, atau adegan mesra di kartun Popeye. Dari pertemuan tersebut, kami
menyimpulkan bahwa sebenarnya pemahaman literasi media siswa-siswi SMP 255
Jakarta sudah sangat baik. Bahkan di Kuesioner yang mereka isi diawal
perjumpaan tadi, kami mengkategorikan konsumsi mereka terhadap media digital
dan online sangat tinggi, seperti bacaan, music dan game online, social media
untuk berkomunikasi, dan lain sebagainya.
Terlebih hal tersebut diimbangi dengan pengetahuan terhadap
tayangan yang positif dan negative menurut mereka. Dalam kuesioner yang setelah
berkunjung, langsung kita rekap tersebut, mereka menilai tayangan-tayangan
seperti On The Spot, Laptop si Unyil, Kartun di beberapa layar TV Kabel, dan Berita
merupakan tontonan positif yang mengedukasi.
Sementara, banyak dari mereka sepakat bahwa sinetron seperti Anak Jalanan,
Mermaid in Love, tontonan Bollywood, dan banyak lagi merupakan tayangan yang
tidak ada nilai edukasinya sehingga malah merusak karakter anak-anak. Hal ini
diungkapkan mereka dengan bahasa-bahasanya sendiri, yang menyertakan alasan di
kuesioner yang mereka isi. Selain itu, poin tambahan lagi bahwa selama mereka
mengonsumsi media, orangtua dianggap sangat berperan dalam mengontrolnya. Wah,
menyenangkan bukan?
Terbersit beberapa asumsi dalam pikiran saya. Disini
merupakan cerita tentang sekelompok anak-anak Generasi Z yang sangat mendukung
kondisinya untuk mengenal teknologi media, menggunakan teknologi media, belajar
dengan teknologi media, dengan segala fasilitas yang ada. Didukung pula oleh
kedua orangtuanya yang juga tak sedikit memiliki pengetahuan tentang Literasi
Media, sehingga bisa mengontrol apa yang dikonsumsi anak-anaknya. Ya, karena
tak susah mewujudkan itu untuk mereka.
Namun, bagaimana dengan Kelompok Generasi Z yang lain?
Anak-anak yang hanya bisa menikmati TV sehari-harinya, itupun berebut dengan
ibunya yang tak mau ketinggalan menonton tayangan Bollywood kesayangannya,
bapaknya yang juga ingin menonton pertandingan tinju, atau kakaknya yang juga
tak mau mengalah menonton serial remaja favoritnya. Sehingga, membuat mereka
akhirnya mengalah dan ikut menikmati juga. Kalau begitu, siapa yang bertanggung
jawab atas perilsaya mereka yang sok dewasa di usianya? Anak-anak yang tak
kenal Gadget untuk berkomunikasi dan mencari informasi, mereka hanya mengenal
warnet yang mungkin hanya seminggu sekali mereka bisa bertandang, membuka
Facebook atau sekedar mencari-cari gambar tokoh idolanya. Kalau begitu, siapa
yang bertanggung jawab mengawasi?
Anak-anak yang hanya bisa memainkan games di Rental PS dekat rumahnya,
karena bahkan untuk menyolokkan kabel PS saja, listrik dirumahnya tidak kuat.
Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab kalau kalau games yang mereka
mainkan, mengajarkan mereka berkelahi, berjudi atau yang lebih parah, berperilsaya
asusila?
Sebenarnya, inilah PR saya dan teman-teman yang hari ini
mengamini bahwa media sangat dekat dengan masyarakat, untuk mengenalkan
Literasi Media dalam memanfaatkan teknologi didekatnya. Terutama, buat
masyarakat yang tidak memiliki akses cukup untuk mengetahui bagaimana
seharusnya memanfaatkan media. Karena, kalau kata salah satu senior saya “media
bukan hanya sangat dekat dengan anak-anak. Tetapi, media hari ini adalah masa
depan anak-anak” Nah lho. Jadi, penting bukan Literasi Media?
Bekasi, 24 Juli 2016


Tidak ada komentar:
Posting Komentar