Selasa, 26 Juli 2016

Rating dan Animasi Negeri yang Tak Pernah Dianggap Penting


Masih di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya yang tak pernah peduli waktu. Apakah pagi, siang atau malam tetap saja padat, mengharuskan orang-orangnya membuang banyak waktu berharga di jalan raya. Kali ini, Pak Gun mengajak saya dan Kak Iyay turut serta menghadiri undangan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dalam serangkaian acara Anugerah Televisi Indonesia Ramah Anak 2016.

Perjalanan yang sebenarnya tidak jauh, namun menghabiskan waktu 3 jam tersebut, kami habisakan dengan obrolan ringan seputar kartun-kartun anak di televise. Saya lebih banyak menyimak mereka tentunya, sembari belajar. Pak Gun yang pada acara tersebut merupakan salah satu dewan juri, sesekali menanyakan komentar kami tentang beberapa kartun atau acara anak yang masuk nominasi. Hingga tak terasa, kami sudah menembus kepadatan Jakarta dan mendarat di pelataran parker Gedung KPI Pusat.


Sesampai disana, ruangan sudah ramai oleh tamu-tamu undangan yang berlabel identitas medianya dan banyak lagi orang yang katanya komisioner-komisioner KPI beserta tamu kehormatannya. Saya sih tidak tau, hehe. Sebelum acara dimulai, tamu-tamu dipersilakan menikmati coffe break, sampai MC memberikan prolog tanda serangkaian seremonial penganugerahan itu hendak dimulai. Sederetan acara berjalan dengan lancar, mulai dari sambutan hingga pembacaan nominasi dan pengumuman pemenang lengkap dengan selingan hiburan yang diisi unjuk bakat anak-anak. Sejenak, mengajak kita bernostalgia sekaligus mengingatkan kita bahwa beberapa hari terlewat kemarin adalah perayaan Hari Anak Nasional.

Anugerah Televisi Indonesia Ramah Anak 2016 merupakan pertama kalinya diselenggarakan, sebagai wujud penghargaan terhadap stasiun televise yang masih peduli akan moral dan masa depan anak-anak Indonesia. Kalo kata pak Judhariksawan, “kalau kita mau, kita bisa menggeser sedikit kepentingan rating untuk perbaikan generasi kita selanjutnya, dengan peduli terhadap eksistensi tayangan yang seharusnya untuk anak-anak.” Waktu bliyo ngomong sih, saya aminin aja, semoga acara ini nggak cuman seremonial belaka untuk mempercantik nama KPI. Yaa.. who knows.

Ada lima kategori nominasi dalam acara penganugerahan tersebut, kategori acara documenter yang dimenangkan oleh Si Bolang Trans 7, kategori acara variety show yang dimenangkan oleh Buah Hatiku Sayang TVRI, kategori acara animasi asing anak yang dimenangkan oleh Pada Zaman Dahulu MNCTv, dan yang terakhir kategori animasi anak Indonesia yang dimenangkan oleh Garuda Gemilang IVM. Menurut saya, di akhir nominasi inilah bagian paling mengharukan, membahagiakan, sekaligus menjadi sentilan!


Ketika nominasi terakhir dibacakan, bahwa pemberian penghargaan jatuh pada IVM dengan animasi anak Indonesia-nya berjudul Garuda Gemilang, dipersilahkanlah PD atau supervisor acara tersebut untuk maju menerima pengargaan KPI. Ketika itu, orang dari IVM yang saya tak tahu namanya, maju didampingi seseorang yang saya pun tak tahu siapa. Setelah menerima penganugerahan, keduanya naik ke mimbar untuk memberikan sepatah dua kata.

Pertama, yang memulai sambutan kemenangannya adalah orang IVM. Setelah ucapan terimakasihnya, dengan wajah yang tentu tampak bahagia, ia sampaikan “Kendala terbesar perkembangan animator Indonesia hari ini, adalah minimnya sokongan dari pemerintah. Hari ini, saya sampaikan langsung di depan wakil ketua komisi I DPR RI yang hadir di depan saya. Karena sebenarnya, ada banyak sekali animator hebat milik Indonesia. Hanya saja, banyak dari mereka yang terhambat financial dalam memproduksi lebih banyak lagi. Saya tau betul, karena ada beberapa PH animasi Indonesia yang deal dengan IVM, dan saya pun terkejut melihat kegilaan mereka memproduksi animasi dengan uang yang tidak bisa dibilang cukup. Jadi, besar sebenarnya harapan animator-animator Indonesia untuk lebih diperhatikan dan didukung karya-karya besarnya oleh pihak yang memang memiliki sokongan dana untuk eksistensi karya mereka” kurang lebih seperti itu perkataannya.

Kemudian, si orang IVM itu mempersilakan pemudah disebelahnya menggantikannya naik keatas mimbar. Rupanya, pemuda tersebut merupakan animator dari PH yang memproduksi animasi Garuda Gemilang yang baru saja berhasil meraih nominasi Animasi Anak Indonesia terbaik. Dengan terbata-bata, karena kebahagiaan membuncah yang tampak sekali diwajahnya, ia mengatakan “ini seperti mimpi buat kami” kemudian dia menceritakan bagaimana perjuangan dia dan teman-temannya menyelesaikan episode demi episode animasi untuk anak-anak Indonesia, terkendala biaya produksi yang terlampau tinggi, belum lagi tidak semua karya animasinya bisa menembus industry televise apalagi ditonton khalayak. Dan ternyata, inilah kondisi banyak animator Indonesia hari ini.

Sementara industry televise lebih memilih membeli dan menayangkan kartun-kartun impor. Lebih murah memang, namun sebenarnya ada banyak animator Indonesia yang menanti karyanya diapresiasi oleh masyarakat luas, bahkan sekedar menutup biaya produksi. Misal, animasi yang budgetnya mencapai 50 juta tapi saat ditawarkan ke televise dalam negeri, hanya dihargai 15 juta. Bagaimana bisa animasi yang sudah susah payah dibuat oleh animator rumah sendiri hanya dihargai segitu, bahkan lebih memilih animasi impor yang jauh lebih murah. Sedih sih dengernya, apalagi ngeliat wajah bahagia si mas pembuat animator Garuda Gemilang itu. Ah, andai semua creator animasi Indonesia bisa merasakan pujian dan apresiasi anak-anak negeri….
Kemudian, saya membiarkan sejenak pikiran saya membumbung merangkai-rangkai sesuatu

Belajar dari Tetangga

Televise Indonesia lebih senang menayangkan animasi impor, memang tak bisa dipungkiri. Namun anehnya kenapa kita masih selalu nyaman dengan status konsumen ? jika mau memetik pelajaran penting dari tetangga sebelah, pemerintahnya telah memberikan kucuran pendanaan untuk produksi studio animasi, sehingga mampu mendulang suksesnya hari ini. Pada Zaman Dahulu, Upin-Ipin, Boboboiy dan banyak lainnya bukan tanpa sebab berani memasarkan animasinya dengan nominal yang sedikit. Hal tersebut, karena sokongan penuh dari pemerintahnya terhadap perkembangan industri animasi. Jempol bukan?

Kenapa Indonesia tidak melepaskan statusnya sebagai konsumen tetap animasi impor dan segera beranjak melihat potensi animasi lokalnya? Nah itu dia pertanyaannya. Sinergi antara PH animasi Indonesia dan pemerintah tentu akan semakin menambah geliat animator-animator kebanggaan rumah sendiri untuk menciptakan lebih banyak lagi tayangan anak yang berkualitas. Sehingga, animasi local dengan segera memiliki penikmatnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Ya, semoga saja setelah cerita si mas yang mewakilkan kawan-kawan animator Indonesia lainnya, pemerintah kita tergerak untuk member apresiasi lebih terhadap eksistensi animasi local.

Indonesia, Negeri Sejuta Cerita

Beberapa tahun lalu, saya pernah juga berbagi cerita di laman ini tentang pujian bertubi-tubi untuk kartun karya tetangga. Upin dan Ipin. Saya tidak akan menarik pujian tersebut, hanya Indonesia seperti lagi-lagi perlu belajar untuk bangga kepada apa yang dipunya. Saya begitu mengagumi serial upin ipin yang menjadikan Malaysia dengan segala tata krama dan religiusitasnya sebagai latar belakang cerita tersebut. Kehidupan sederhana yang tidak muluk-muluk diikuti rentetan pesan berharga yang dengan mudah dicerna anak-anak.

Bagi saya, sebenarnya Indonesia jauh lebih banyak menyimpan cerita dengan keberagamannya dari sabang sampai merauke. Jika peluang tersebut ditangkap benar oleh para stakeholder yang juga prihatin terhadap tayangan anak Indonesia, tentu ini akan menjadi solusi atas kering kerontangnya sokongan bagi animator kita. Bayangkan, dengan beragam latar belakang budaya, bahasa, unggah-ungguh, dan segala keunikannya tentu tak susah menciptakan sejuta cerita untuk animasi Indonesia. Toh, tak adalagi yang perlu diragukan dari kreatifitas animator tanah air.

Tengoklah Upin-Ipin, meskipun budayanya tak seberagam Indonesia, dengan dukungan segala pihak mampu membuat animasi anak tersebut menghiasi layar-layar di seluruh dunia. Dan yang terpenting, menyebarluaskan pesan-pesan kebaikan untuk anak-anak di dunia dengan cara mereka. Nah sekarang saatnya kita!

Jika kita terus berburu rating, kapan animasi Indonesia akan dianggap penting?


Bekasi, 26 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar