Masih di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya yang tak pernah peduli waktu. Apakah pagi, siang atau malam tetap saja padat, mengharuskan orang-orangnya membuang banyak waktu berharga di jalan raya. Kali ini, Pak Gun mengajak saya dan Kak Iyay turut serta menghadiri undangan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dalam serangkaian acara Anugerah Televisi Indonesia Ramah Anak 2016.
Perjalanan yang sebenarnya tidak jauh, namun menghabiskan
waktu 3 jam tersebut, kami habisakan dengan obrolan ringan seputar
kartun-kartun anak di televise. Saya lebih banyak menyimak mereka tentunya,
sembari belajar. Pak Gun yang pada acara tersebut merupakan salah satu dewan
juri, sesekali menanyakan komentar kami tentang beberapa kartun atau acara anak
yang masuk nominasi. Hingga tak terasa, kami sudah menembus kepadatan Jakarta
dan mendarat di pelataran parker Gedung KPI Pusat.
Sesampai disana, ruangan sudah ramai oleh tamu-tamu undangan
yang berlabel identitas medianya dan banyak lagi orang yang katanya
komisioner-komisioner KPI beserta tamu kehormatannya. Saya sih tidak tau, hehe.
Sebelum acara dimulai, tamu-tamu dipersilakan menikmati coffe break, sampai MC
memberikan prolog tanda serangkaian seremonial penganugerahan itu hendak
dimulai. Sederetan acara berjalan dengan lancar, mulai dari sambutan hingga
pembacaan nominasi dan pengumuman pemenang lengkap dengan selingan hiburan yang
diisi unjuk bakat anak-anak. Sejenak, mengajak kita bernostalgia sekaligus mengingatkan kita bahwa beberapa hari
terlewat kemarin adalah perayaan Hari Anak Nasional.
Anugerah Televisi Indonesia Ramah Anak 2016 merupakan pertama kalinya diselenggarakan, sebagai wujud penghargaan terhadap stasiun televise yang masih peduli akan moral dan masa depan anak-anak Indonesia. Kalo kata pak Judhariksawan, “kalau kita mau, kita bisa menggeser sedikit kepentingan rating untuk perbaikan generasi kita selanjutnya, dengan peduli terhadap eksistensi tayangan yang seharusnya untuk anak-anak.” Waktu bliyo ngomong sih, saya aminin aja, semoga acara ini nggak cuman seremonial belaka untuk mempercantik nama KPI. Yaa.. who knows.
Ada lima kategori nominasi dalam acara penganugerahan
tersebut, kategori acara documenter yang dimenangkan oleh Si Bolang Trans 7,
kategori acara variety show yang dimenangkan oleh Buah Hatiku Sayang TVRI,
kategori acara animasi asing anak yang dimenangkan oleh Pada Zaman Dahulu
MNCTv, dan yang terakhir kategori animasi anak Indonesia yang dimenangkan oleh
Garuda Gemilang IVM. Menurut saya, di akhir nominasi inilah bagian paling
mengharukan, membahagiakan, sekaligus menjadi sentilan!
Ketika nominasi terakhir dibacakan, bahwa pemberian penghargaan jatuh pada IVM dengan animasi anak Indonesia-nya berjudul Garuda Gemilang, dipersilahkanlah PD atau supervisor acara tersebut untuk maju menerima pengargaan KPI. Ketika itu, orang dari IVM yang saya tak tahu namanya, maju didampingi seseorang yang saya pun tak tahu siapa. Setelah menerima penganugerahan, keduanya naik ke mimbar untuk memberikan sepatah dua kata.
Pertama, yang memulai sambutan kemenangannya adalah orang
IVM. Setelah ucapan terimakasihnya, dengan wajah yang tentu tampak bahagia, ia
sampaikan “Kendala terbesar perkembangan animator Indonesia hari ini, adalah
minimnya sokongan dari pemerintah. Hari ini, saya sampaikan langsung di depan
wakil ketua komisi I DPR RI yang hadir di depan saya. Karena sebenarnya, ada
banyak sekali animator hebat milik Indonesia. Hanya saja, banyak dari mereka
yang terhambat financial dalam memproduksi lebih banyak lagi. Saya tau betul,
karena ada beberapa PH animasi Indonesia yang deal dengan IVM, dan saya pun
terkejut melihat kegilaan mereka memproduksi animasi dengan uang yang tidak
bisa dibilang cukup. Jadi, besar sebenarnya harapan animator-animator Indonesia
untuk lebih diperhatikan dan didukung karya-karya besarnya oleh pihak yang
memang memiliki sokongan dana untuk eksistensi karya mereka” kurang lebih
seperti itu perkataannya.
Kemudian, si orang IVM itu mempersilakan pemudah
disebelahnya menggantikannya naik keatas mimbar. Rupanya, pemuda tersebut
merupakan animator dari PH yang memproduksi animasi Garuda Gemilang yang baru
saja berhasil meraih nominasi Animasi Anak Indonesia terbaik. Dengan
terbata-bata, karena kebahagiaan membuncah yang tampak sekali diwajahnya, ia
mengatakan “ini seperti mimpi buat kami” kemudian dia menceritakan bagaimana
perjuangan dia dan teman-temannya menyelesaikan episode demi episode animasi
untuk anak-anak Indonesia, terkendala biaya produksi yang terlampau tinggi,
belum lagi tidak semua karya animasinya bisa menembus industry televise apalagi
ditonton khalayak. Dan ternyata, inilah kondisi banyak animator Indonesia hari
ini.
Sementara industry televise lebih memilih membeli dan
menayangkan kartun-kartun impor. Lebih murah memang, namun sebenarnya ada
banyak animator Indonesia yang menanti karyanya diapresiasi oleh masyarakat
luas, bahkan sekedar menutup biaya produksi. Misal, animasi yang budgetnya
mencapai 50 juta tapi saat ditawarkan ke televise dalam negeri, hanya dihargai
15 juta. Bagaimana bisa animasi yang sudah susah payah dibuat oleh animator
rumah sendiri hanya dihargai segitu, bahkan lebih memilih animasi impor yang
jauh lebih murah. Sedih sih dengernya, apalagi ngeliat wajah bahagia si mas
pembuat animator Garuda Gemilang itu. Ah, andai semua creator animasi Indonesia
bisa merasakan pujian dan apresiasi anak-anak negeri….
Kemudian, saya membiarkan sejenak pikiran saya membumbung
merangkai-rangkai sesuatu
Belajar dari Tetangga
Televise Indonesia lebih senang menayangkan animasi impor,
memang tak bisa dipungkiri. Namun anehnya kenapa kita masih selalu nyaman
dengan status konsumen ? jika mau memetik pelajaran penting dari tetangga
sebelah, pemerintahnya telah memberikan kucuran pendanaan untuk produksi studio
animasi, sehingga mampu mendulang suksesnya hari ini. Pada Zaman Dahulu,
Upin-Ipin, Boboboiy dan banyak lainnya bukan tanpa sebab berani memasarkan
animasinya dengan nominal yang sedikit. Hal tersebut, karena sokongan penuh
dari pemerintahnya terhadap perkembangan industri animasi. Jempol bukan?
Kenapa Indonesia tidak melepaskan statusnya sebagai konsumen
tetap animasi impor dan segera beranjak melihat potensi animasi lokalnya? Nah
itu dia pertanyaannya. Sinergi antara PH animasi Indonesia dan pemerintah tentu
akan semakin menambah geliat animator-animator kebanggaan rumah sendiri untuk
menciptakan lebih banyak lagi tayangan anak yang berkualitas. Sehingga, animasi
local dengan segera memiliki penikmatnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Ya,
semoga saja setelah cerita si mas yang mewakilkan kawan-kawan animator
Indonesia lainnya, pemerintah kita tergerak untuk member apresiasi lebih
terhadap eksistensi animasi local.
Indonesia, Negeri
Sejuta Cerita
Beberapa tahun lalu, saya pernah juga berbagi cerita di
laman ini tentang pujian bertubi-tubi untuk kartun karya tetangga. Upin dan
Ipin. Saya tidak akan menarik pujian tersebut, hanya Indonesia seperti
lagi-lagi perlu belajar untuk bangga kepada apa yang dipunya. Saya begitu
mengagumi serial upin ipin yang menjadikan Malaysia dengan segala tata krama
dan religiusitasnya sebagai latar belakang cerita tersebut. Kehidupan sederhana
yang tidak muluk-muluk diikuti rentetan pesan berharga yang dengan mudah dicerna
anak-anak.
Bagi saya, sebenarnya Indonesia jauh lebih banyak menyimpan cerita
dengan keberagamannya dari sabang sampai merauke. Jika peluang tersebut
ditangkap benar oleh para stakeholder yang
juga prihatin terhadap tayangan anak Indonesia, tentu ini akan menjadi solusi
atas kering kerontangnya sokongan bagi animator kita. Bayangkan, dengan beragam
latar belakang budaya, bahasa, unggah-ungguh, dan segala keunikannya tentu tak
susah menciptakan sejuta cerita untuk animasi Indonesia. Toh, tak adalagi yang
perlu diragukan dari kreatifitas animator tanah air.
Tengoklah Upin-Ipin, meskipun budayanya tak seberagam
Indonesia, dengan dukungan segala pihak mampu membuat animasi anak tersebut
menghiasi layar-layar di seluruh dunia. Dan yang terpenting, menyebarluaskan
pesan-pesan kebaikan untuk anak-anak di dunia dengan cara mereka. Nah sekarang
saatnya kita!
Jika kita terus
berburu rating, kapan animasi Indonesia akan dianggap penting?
Bekasi, 26 Juli 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar