Era
Globalisasi sukses mengantarkan manusia menuju zaman peradaban serba teknologi.
Di zaman ini, teknologi telah menyulap informasi menjadi suatu komoditas baru
bagi masyarakat dengan adanya media informasi yang semakin canggih berevolusi.
Siapapun membutuhkan informasi, dan teknologi membuat media informasi dengan
mudah di akses oleh siapa saja dan kapan saja di masa ini.
Jika dahulu
masyarakat hanya bisa mengakses informasi melalui cetakan surat kabar, kemudian
baru layar televisi berwarna hitam-putih hingga saat ini dengan mudah mengakses
informasi melalui media online di internet yang dapat ter-update kapan saja, maka begitulah dengan pesatnya media informasi
sebagai teknologi berkembang di masyarakat.
Seiring
perkembangan media informasi yang semakin canggih, kini masyarakat dapat
mengakses informasi melalui telepon genggam maupun gadget dimanapun mereka
berada, hingga masyarakat tidak dapat lagi terlepas dari arus informasi yang
setiap detik berlalu lalang memperbarui.
Media massa
sebagai bentuk perluasan makna dari media informasi, kini menyandang peran
barunya sebagai pilar keempat pendidikan. Namun, masih banyak yang tidak
menyadari bahwa media massa merupakan pilar keempat pendidikan. Mari menelisik
lebih dahulu pilar-pilar utama pendidikan karakter bagi generasi muda:
Keluarga, sekolah, dan lingkungan. Pendidikan primer seorang anak dimulai dari
pembentukan karakter sejak dini dalam keluarga. Kemudian, melalui sekolah
formal anak menjalani perannya sebagai seorang siswa yang menuntut ilmu dan
mendapat pengetahuan serta pengayaan di pilar kedua pendidikannya, yakni
sekolah. Sementara melalui lingkungannya, anak akan belajar menjalani
kehidupannya sebagai seorang makhluk sosial. Dan sebagai pilar ketiga pun,
lingkungan tak sedikit pula memberikan pengaruh dalam membentuk kepribadian
anak.
Lantas bagaimana letak media massa
sebagai pilar keempat pendidikan karakter ?
Di era
globalisasi kini, media massa mendapatkan perannya sebagai salah satu penentu
dalam proses pendidikan karakter seorang anak. Kecenderungan manusia modern
saat ini, yang bahkan tak terbatas usia, dari anak berumur 3 tahun hingga
manusia dewasa berumur kisaran 65 tahun, tak lagi dapat dibendung aksesnya
terhadap media massa. Dari bangun tidur hingga kembali lagi ke tempat tidur, akses
telepon genggam, gadget, televisi, surat kabar, laptop, dan berbagai media
komunikasi lainnya tak dapat lagi dihindari. Kemudahan mengakses media massa
tersebut, yang kemudian mendasari penulis memunculkan statement bahwa kini media massa memainkan perannya sebagai pilar
keempat pendidikan karakter.
Mari berfokus pada media massa dan
pengaruhnya terhadap proses pendidikan karakter bagi anak.
Di ranah
media, sangat penting untuk kita sadari bahwa televisi merupakan akses media
yang paling mudah terjangkau oleh anak-anak. Permasalahannya, tayangan-tayangan
di layar kaca belakangan yang semakin vulgar dan tak sedikitpun mengandung
unsur edukasi bagi anak-anak yang menontonnya justru ditayangkan pada waktu prime time . Tanpa kontrol dari keluarga
dalam menyeleksi tayangan yang ditontonnya di televisi, maka nilai-nilai yang
tidak seharusnya dipahami oleh anak-anak akan dengan mudah terinternalisasi dan
menjadi wajar digunakan dalam pergaulan dengan sebayanya.
Sebagai
contoh, tayangan sinetron remaja yang disajikan pada jam prime time rupanya lebih diminati oleh anak-anak usia Sekolah Dasar
(SD). Alhasil, nilai-nilai yang jauh dari tata kesopanan yang diajarkan dalam
keluarga, sekolah, bahkan lingkungan, dengan mudah mereka praktekkan karena
efek nilai yang terus menerus terinternalisasi dalam diri mereka dan menjadi
terbiasa (red: Teori Kultivasi). Istilah-istilah yang luput dari unsur edukasi
pun menjadi wajar bagi mereka, seperti dalam salah satu sinetron remaja yang
juga menjadi kegemaran anak-anak, “Kamseupay iyuh” “Udik Kampungan” “masalah
buat lo?” atau “trus gue harus bilang waw gitu?” dan masih banyak lagi. Semakin
menjadi ironi ketika istilah semacam itu justru lebih populer di kalangan
anak-anak usia SD. Istilah tersebut bahkan sangat jauh dari norma kesopanan
sebagaimana diajarkan dalam mata pelajaran PPKN di Sekolah Dasar (SD). Fenomena
tersebut kemudian, membuktikan kepada kita bahwa kini media massa telah jauh berperan
dalam internalisasi karakter bagi para generasi muda.
Di lain
pihak, media juga memerankan fungsinya
yaitu informasi. Namun, fungsi informasi media kepada khalayak rupanya kurang
memerhatikan sisi edukasi bagi para pemirsanya. Sebagai contoh, tayangan berita
kriminal yang biasanya disajikan siang hari pada jam makan siang (prime time) seringkali menampilkan
proses reka ulang kejadian perkara seperti kronologi pembunuhan, mutilasi, atau
perampokan tanpa sensor. Padahal audience
sebuah tayangan tak dapat di prediksi dari segmen mana saja, termasuk
anak-anak. Menyikapi hal tersebut, seringkali kejadian yang disaksikan
anak-anak yang sedang memasuki tahap Play
Stage di usia nya, akan memunculkan rasa Curiousity
mereka yang tinggi dan tak jarang menirunya.
Belum lagi
jika berbicara mengenai media online. Akses jejaring sosial, game online,
banjir informasi dari yang fakta hingga sekedar isu, tak sedikit pula
mempengaruhi proses pendidikan karakter para generasi muda. Jejaring sosial
yang kemudian membentuk anak menjadi lebih hobi duduk di depan layar
komputernya dan memilih bercengkerama dengan teman mayanya, atau game online
denga bumbu-bumbu kekerasan yang tidak bisa kita tolerir untuk dinikmati
anak-anak usia dini, belum lagi informasi yang dengan mudah di dapat masyarakat
maya sangat rentan dengan konten-konten terlarang.
Namun, yang
perlu kita sadari bahwa perkembangan media informasi yang memberikan berbagai
dampak bagi generasi muda, bukan untuk kita bendung kegunaannya, namun untuk
kita manfaatkan sebaik-baiknya. Karena, tanpa dapat dipungkiri jika
ketergantungan generasi muda kini untuk mengakses informasi melalui lini massa
akan sangat berpengaruh bagi proses pendidikan karakternya, termasuk kepada apa
saja yang dinikmatinya melalui media massa tersebut. Disinilah poin yang
penulis rasa menjadi penting untuk dijadikan evaluasi bersama bagi semua pihak.
Sehingga,
hadirnya media massa sebagai pilar keempat pendidikan karakter benar adanya.
Ketika pilar pertama hingga pilar ketiga tidak maksimal memberikan perannya
pada proses pendidikan seorang anak, maka dengan serta merta media yang ada di
sekitar anak lah, yang akan membentuk karakternya. Begitupun sebaliknya, ketika
proses pendidikan karakter terinternalisasikan melalui ketiga pilar utama, maka
media sebagai pilar keempat pendidikan karakter akan meng-cover-nya dan menjadikannya lebih sempurna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar