Minggu, 01 Juni 2014

Media : Pilar Keempat Pendidikan Karakter

Era Globalisasi sukses mengantarkan manusia menuju zaman peradaban serba teknologi. Di zaman ini, teknologi telah menyulap informasi menjadi suatu komoditas baru bagi masyarakat dengan adanya media informasi yang semakin canggih berevolusi. Siapapun membutuhkan informasi, dan teknologi membuat media informasi dengan mudah di akses oleh siapa saja dan kapan saja di masa ini.
Jika dahulu masyarakat hanya bisa mengakses informasi melalui cetakan surat kabar, kemudian baru layar televisi berwarna hitam-putih hingga saat ini dengan mudah mengakses informasi melalui media online di internet yang dapat ter-update kapan saja, maka begitulah dengan pesatnya media informasi sebagai teknologi berkembang di masyarakat.

Seiring perkembangan media informasi yang semakin canggih, kini masyarakat dapat mengakses informasi melalui telepon genggam maupun gadget dimanapun mereka berada, hingga masyarakat tidak dapat lagi terlepas dari arus informasi yang setiap detik berlalu lalang memperbarui.
Media massa sebagai bentuk perluasan makna dari media informasi, kini menyandang peran barunya sebagai pilar keempat pendidikan. Namun, masih banyak yang tidak menyadari bahwa media massa merupakan pilar keempat pendidikan. Mari menelisik lebih dahulu pilar-pilar utama pendidikan karakter bagi generasi muda: Keluarga, sekolah, dan lingkungan. Pendidikan primer seorang anak dimulai dari pembentukan karakter sejak dini dalam keluarga. Kemudian, melalui sekolah formal anak menjalani perannya sebagai seorang siswa yang menuntut ilmu dan mendapat pengetahuan serta pengayaan di pilar kedua pendidikannya, yakni sekolah. Sementara melalui lingkungannya, anak akan belajar menjalani kehidupannya sebagai seorang makhluk sosial. Dan sebagai pilar ketiga pun, lingkungan tak sedikit pula memberikan pengaruh dalam membentuk kepribadian anak.
Lantas bagaimana letak media massa sebagai pilar keempat pendidikan karakter ?
Di era globalisasi kini, media massa mendapatkan perannya sebagai salah satu penentu dalam proses pendidikan karakter seorang anak. Kecenderungan manusia modern saat ini, yang bahkan tak terbatas usia, dari anak berumur 3 tahun hingga manusia dewasa berumur kisaran 65 tahun, tak lagi dapat dibendung aksesnya terhadap media massa. Dari bangun tidur hingga kembali lagi ke tempat tidur, akses telepon genggam, gadget, televisi, surat kabar, laptop, dan berbagai media komunikasi lainnya tak dapat lagi dihindari. Kemudahan mengakses media massa tersebut, yang kemudian mendasari penulis memunculkan statement bahwa kini media massa memainkan perannya sebagai pilar keempat pendidikan karakter.
Mari berfokus pada media massa dan pengaruhnya terhadap proses pendidikan karakter bagi anak.
Di ranah media, sangat penting untuk kita sadari bahwa televisi merupakan akses media yang paling mudah terjangkau oleh anak-anak. Permasalahannya, tayangan-tayangan di layar kaca belakangan yang semakin vulgar dan tak sedikitpun mengandung unsur edukasi bagi anak-anak yang menontonnya justru ditayangkan pada waktu prime time . Tanpa kontrol dari keluarga dalam menyeleksi tayangan yang ditontonnya di televisi, maka nilai-nilai yang tidak seharusnya dipahami oleh anak-anak akan dengan mudah terinternalisasi dan menjadi wajar digunakan dalam pergaulan dengan sebayanya.
Sebagai contoh, tayangan sinetron remaja yang disajikan pada jam prime time rupanya lebih diminati oleh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Alhasil, nilai-nilai yang jauh dari tata kesopanan yang diajarkan dalam keluarga, sekolah, bahkan lingkungan, dengan mudah mereka praktekkan karena efek nilai yang terus menerus terinternalisasi dalam diri mereka dan menjadi terbiasa (red: Teori Kultivasi). Istilah-istilah yang luput dari unsur edukasi pun menjadi wajar bagi mereka, seperti dalam salah satu sinetron remaja yang juga menjadi kegemaran anak-anak, “Kamseupay iyuh” “Udik Kampungan” “masalah buat lo?” atau “trus gue harus bilang waw gitu?” dan masih banyak lagi. Semakin menjadi ironi ketika istilah semacam itu justru lebih populer di kalangan anak-anak usia SD. Istilah tersebut bahkan sangat jauh dari norma kesopanan sebagaimana diajarkan dalam mata pelajaran PPKN di Sekolah Dasar (SD). Fenomena tersebut kemudian, membuktikan kepada kita bahwa kini media massa telah jauh berperan dalam internalisasi karakter bagi para generasi muda.
Di lain pihak, media juga  memerankan fungsinya yaitu informasi. Namun, fungsi informasi media kepada khalayak rupanya kurang memerhatikan sisi edukasi bagi para pemirsanya. Sebagai contoh, tayangan berita kriminal yang biasanya disajikan siang hari pada jam makan siang (prime time) seringkali menampilkan proses reka ulang kejadian perkara seperti kronologi pembunuhan, mutilasi, atau perampokan tanpa sensor. Padahal audience sebuah tayangan tak dapat di prediksi dari segmen mana saja, termasuk anak-anak. Menyikapi hal tersebut, seringkali kejadian yang disaksikan anak-anak yang sedang memasuki tahap Play Stage di usia nya, akan memunculkan  rasa Curiousity mereka yang tinggi dan tak jarang menirunya.
Belum lagi jika berbicara mengenai media online. Akses jejaring sosial, game online, banjir informasi dari yang fakta hingga sekedar isu, tak sedikit pula mempengaruhi proses pendidikan karakter para generasi muda. Jejaring sosial yang kemudian membentuk anak menjadi lebih hobi duduk di depan layar komputernya dan memilih bercengkerama dengan teman mayanya, atau game online denga bumbu-bumbu kekerasan yang tidak bisa kita tolerir untuk dinikmati anak-anak usia dini, belum lagi informasi yang dengan mudah di dapat masyarakat maya sangat rentan dengan konten-konten terlarang.
Namun, yang perlu kita sadari bahwa perkembangan media informasi yang memberikan berbagai dampak bagi generasi muda, bukan untuk kita bendung kegunaannya, namun untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya. Karena, tanpa dapat dipungkiri jika ketergantungan generasi muda kini untuk mengakses informasi melalui lini massa akan sangat berpengaruh bagi proses pendidikan karakternya, termasuk kepada apa saja yang dinikmatinya melalui media massa tersebut. Disinilah poin yang penulis rasa menjadi penting untuk dijadikan evaluasi bersama bagi semua pihak.

Sehingga, hadirnya media massa sebagai pilar keempat pendidikan karakter benar adanya. Ketika pilar pertama hingga pilar ketiga tidak maksimal memberikan perannya pada proses pendidikan seorang anak, maka dengan serta merta media yang ada di sekitar anak lah, yang akan membentuk karakternya. Begitupun sebaliknya, ketika proses pendidikan karakter terinternalisasikan melalui ketiga pilar utama, maka media sebagai pilar keempat pendidikan karakter akan meng-cover-nya dan menjadikannya lebih sempurna. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar