Bercerita tentang rutinitas saya akhir-akhir ini, selama tiga kali seminggu saya dan 4 temen saya, punya kesibukan baru. Sekedar mengisi aktifitas sebagai volunteer di daerah sangkrah, kami menjadi sukarelawan sebagai teman belajar, buat adik-adik sd-smp di daerah yang terbilang cukup kumuh itu.
Baru sekitar 2
minggu kami mendampingi mereka, banyak kesan dan pengalaman-pengalaman unik
yang kami dapatkan dari tingkah lugu mereka.
Saya menjadi
teman belajar Nenden seorang gadis kelas 2 SMP. 5 hari yang lalu, seperti
biasa, seusai mengerjakan tugas TIK, dan sembari menunggu temen2 saya selesai
menemani adik2 bimbingannya belajar, kami berbagi cerita. Gadis tomboy yang
sebentar lagi beranjak dewasa itu, asik menceritakan kegiatannya di sekolah
sebagai seorang drummer band kelasnya. Berdecak juga mendengar ia bercerita
tentang kelihaiannya bermain drum. Sesekali saya bertanya dan menanggapi
aktifitas2 uniknya itu. Seperti kebiasaanya berkenalan dengan stranger di FB,
atau sepulang sekolah bermain games di warnet tanpa pernah absen, dan Ckck,
bumbu-bumbu tak sedap efek tabung kaca itu rupanya begitu menjangkiti adik ini.
Keasikan
dengan ceritanya, akhirnya lelah juga ia. Lantas sebuah tanya terlontar
darinya,
“mbak yanna
sibuk gak to kuliahnya?”
“hehe. Kalo di
fakultasku enggak dek, soalnya mata kuliahnya santai semua”
“lha emang
kuliah sibuk ya?”
“ya, kalo yang
di saintek eh ipa, sibuk banget. penelitian dan
laporan tiap hari. Kalo aku, paling bikin makalah, karangan gitu deh”
“tapi kok
kayaknya kuliah gak sibuk to mbak? Kerjaanya main ke mall terus,
ngumpul-ngumpul di kafe, karaokean, jalan-jalan naik mobil, terus baju-bajunya
gitu modis-modis kayak artis ya?” pasang wajah lugu ia bertanya
“hah? Kata
siapa atuh nenden? Itu mah enak-enaknya kuliah kali. Kuliah itu, justru kita
diminta buat lebih serius belajar, banyak belajar sendiri juga kalo pas dosen
gak masuk. Kagak main terus, hahahaha. Kamu tuh ada aja. Emang kata siapa
begitu dek?”
“lha wong aku liat di cinta cenat cenut itu
kok mbak! Sama di sinetron-sinetron lain. Kayaknya kuliah asik banget, main
terus”
Well, stuck
deh saya.
Sampai
perbincangan itu, kemudian saya berpikir, apa ini penyebab mahasiswa di
Indonesia semakin mengalami penurunan kualitas? Yang dahulu kritis jadi apatis,
yang dahulu idealis jadi realistis, yang dahulu prihatin jadi hedonis, yang
dahulu antusias jadi pemalas?
Terang saja, rupanya media telah mencuci otak-otak kita mengenai bagaimana seorang mahasiswa, terframe dimata masyarakat. Esensi seorang mahasiswa yang menjadi pilar perubahan sebuah bangsa kini, mati sudah. Menyisakan sosok-sosok mahasiswa yang individualis, apatis, hedonis, pasif, dan mereka yang lebih peduli akan kehidupan diri sendiri, kesenangan diri sendiri.
Begitu
lihainya sutradara-sutradara itu membasuh pola pikir anak-anak lugu ini dengan
esensi seorang mahasiswa yang seolah hanya terlihat senangnya tanpa
perjuangannya. Esensi seorang mahasiswa yang begitu menikmati hidupnya tanpa
membela nasib bangsanya. Tidakkah mereka berpikir, bagaimana jika seluruh anak
indonesia berpikiran sama halnya dengan Nenden? Gadis sederhana yang
bercita-cita menjadi mahasiswa dengan segala pola hidup glamour ala ibukota
yang coba di frame oleh sinetron-sinetron bernilai sampah itu. Dengan segala
keluguannya ia berpikir betapa enaknya hidup seorang mahasiswa dengan
kesenangan-kesenangannya.
Seketika,
ingatan-ingatan di otak memutar jelas scene-scene FTV yang doyan saya tonton
semasa SMA. Gak salah, fenomena ini memang tanpa disadari telah menjadi racun,
bahkan virus yang menjangkiti remaja-remaja putih-biru hingga putih abu-abu.
Angan mereka tentang betapa enaknya hidup mahasiswa yang terlihat hanya
kuliah-pulang-nongkrong, atau kisah kasih dikampus yang mendominasi skenario-skenario
sinetron made in Indonesia itu. Jarang sekali kita temukan kini, kisah laiknya
si Doel yang dengan segala bentuk keprihatinan, berjuang menyandang gelar
sarjana nya, hingga jatuh-bangun ia
mendapatkan pekerjaan yang mumpuni untuk menyambung hidup ibu dan
adik-adiknya. Kalau pun ada saat ini, mungkin itu hanya sebagai bumbu-bumbu
nilai moral saja dalam skenario tersebut.
Jadi bisa dibayangkan bukan, ketika semua anak Indonesia yang menyaksikan sinetron macam
sampah itu, berpikir bahwa ketika esok ia menyandang identitas sebagai
mahasiswa, maka tokoh-tokoh mahasiswa di sinetron yang ia lihat semasa itu,
akan menjadi tolak ukur peran yang disandangnya hari ini.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar