Sabtu, 16 November 2013

Realita dalam Bingkai Tabung Kaca



Bercerita tentang rutinitas saya akhir-akhir ini, selama tiga kali seminggu saya dan 4 temen saya, punya kesibukan baru. Sekedar mengisi aktifitas sebagai volunteer di daerah sangkrah, kami menjadi sukarelawan sebagai teman belajar, buat adik-adik sd-smp di daerah yang terbilang cukup kumuh itu.
Baru sekitar 2 minggu kami mendampingi mereka, banyak kesan dan pengalaman-pengalaman unik yang kami dapatkan dari tingkah lugu mereka.
Saya menjadi teman belajar Nenden seorang gadis kelas 2 SMP. 5 hari yang lalu, seperti biasa, seusai mengerjakan tugas TIK, dan sembari menunggu temen2 saya selesai menemani adik2 bimbingannya belajar, kami berbagi cerita. Gadis tomboy yang sebentar lagi beranjak dewasa itu, asik menceritakan kegiatannya di sekolah sebagai seorang drummer band kelasnya. Berdecak juga mendengar ia bercerita tentang kelihaiannya bermain drum. Sesekali saya bertanya dan menanggapi aktifitas2 uniknya itu. Seperti kebiasaanya berkenalan dengan stranger di FB, atau sepulang sekolah bermain games di warnet tanpa pernah absen, dan Ckck, bumbu-bumbu tak sedap efek tabung kaca itu rupanya begitu menjangkiti adik ini.  

Keasikan dengan ceritanya, akhirnya lelah juga ia. Lantas sebuah tanya terlontar darinya,
“mbak yanna sibuk gak to kuliahnya?”
“hehe. Kalo di fakultasku enggak dek, soalnya mata kuliahnya santai semua”
“lha emang kuliah sibuk ya?”
“ya, kalo yang di saintek eh ipa, sibuk banget. penelitian dan  laporan tiap hari. Kalo aku, paling bikin makalah, karangan gitu deh”
“tapi kok kayaknya kuliah gak sibuk to mbak? Kerjaanya main ke mall terus, ngumpul-ngumpul di kafe, karaokean, jalan-jalan naik mobil, terus baju-bajunya gitu modis-modis kayak artis ya?” pasang wajah lugu ia bertanya
“hah? Kata siapa atuh nenden? Itu mah enak-enaknya kuliah kali. Kuliah itu, justru kita diminta buat lebih serius belajar, banyak belajar sendiri juga kalo pas dosen gak masuk. Kagak main terus, hahahaha. Kamu tuh ada aja. Emang kata siapa begitu dek?”
(dengan muka polos sembari meringis ia berkata)



“lha wong aku liat di cinta cenat cenut itu kok mbak! Sama di sinetron-sinetron lain. Kayaknya kuliah asik banget, main terus”
Well, stuck deh saya.
Sampai perbincangan itu, kemudian saya berpikir, apa ini penyebab mahasiswa di Indonesia semakin mengalami penurunan kualitas? Yang dahulu kritis jadi apatis, yang dahulu idealis jadi realistis, yang dahulu prihatin jadi hedonis, yang dahulu antusias jadi pemalas?

Terang saja, rupanya media telah mencuci otak-otak kita mengenai bagaimana seorang mahasiswa, terframe dimata masyarakat. Esensi seorang mahasiswa yang menjadi pilar perubahan sebuah bangsa kini, mati sudah. Menyisakan sosok-sosok mahasiswa yang individualis, apatis, hedonis, pasif, dan mereka yang lebih peduli akan kehidupan diri sendiri, kesenangan diri sendiri.
Begitu lihainya sutradara-sutradara itu membasuh pola pikir anak-anak lugu ini dengan esensi seorang mahasiswa yang seolah hanya terlihat senangnya tanpa perjuangannya. Esensi seorang mahasiswa yang begitu menikmati hidupnya tanpa membela nasib bangsanya. Tidakkah mereka berpikir, bagaimana jika seluruh anak indonesia berpikiran sama halnya dengan Nenden? Gadis sederhana yang bercita-cita menjadi mahasiswa dengan segala pola hidup glamour ala ibukota yang coba di frame oleh sinetron-sinetron bernilai sampah itu. Dengan segala keluguannya ia berpikir betapa enaknya hidup seorang mahasiswa dengan kesenangan-kesenangannya.

Seketika, ingatan-ingatan di otak memutar jelas scene-scene FTV yang doyan saya tonton semasa SMA. Gak salah, fenomena ini memang tanpa disadari telah menjadi racun, bahkan virus yang menjangkiti remaja-remaja putih-biru hingga putih abu-abu. Angan mereka tentang betapa enaknya hidup mahasiswa yang terlihat hanya kuliah-pulang-nongkrong, atau kisah kasih dikampus yang mendominasi skenario-skenario sinetron made in Indonesia itu. Jarang sekali kita temukan kini, kisah laiknya si Doel yang dengan segala bentuk keprihatinan, berjuang menyandang gelar sarjana nya, hingga jatuh-bangun ia  mendapatkan pekerjaan yang mumpuni untuk menyambung hidup ibu dan adik-adiknya. Kalau pun ada saat ini, mungkin itu hanya sebagai bumbu-bumbu nilai moral saja dalam skenario tersebut.
Jadi bisa dibayangkan bukan, ketika semua anak Indonesia yang menyaksikan sinetron macam sampah itu, berpikir bahwa ketika esok ia menyandang identitas sebagai mahasiswa, maka tokoh-tokoh mahasiswa di sinetron yang ia lihat semasa itu, akan menjadi tolak ukur peran yang disandangnya hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar